Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Faisal, Raja Saudi yang Menolak Tersenyum Sebelum Palestina Merdeka

Sebelum dinobatkan menjadi raja pada 2 November 1964, ia diserahi jabatan strategis: Gubernur Hijaz, Menteri Luar Negeri dan Perdana Menteri.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Sudirman
Ist
Ismail Amin, MA, Mahasiswa S3 Universitas Internasional Almustafa Iran 

Dia menggratiskan pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi dan mewajibkan semua warga mendapat pendidikan, tidak terkecuali perempuan.

Disaat pendidikan di dunia Arab masih mengalami diskriminasi gender terhadap perempuan, Raja Faisal membuat prototype sekolah modern khusus perempuan.

Raja Faisal juga melakukan penyederhanaan gaya hidup keluarga kerajaan serta melakukan penghematan kas kerajaan dengan menarik 500 mobil mewah Cadillac milik istana.

Dia juga membatasi keluarga kerajaan untuk keluar negeri, bahkan Raja Faisal mengeluarkan dekrit bahwa semua pangeran Saudi harus menyekolahkan anak-anak mereka di dalam negeri.

Keuntungan dari penghematan itu dia gunakan untuk membangun sumur raksasa hingga sedalam 1.200 meter sebagai tambahan sumber air rakyat untuk dialirkan pada lahan-lahan tandus di Semenanjung Arab.

Sebagai bentuk dukungannya pada Pan-Islamisme, ia menerapkan kebijakan non sektarian lebih luas.

Dia menerima keragaman budaya dan merangkul Syiah Al Ahsa di timur; Asir di barat daya, dan suku-suku diperbatasan Yaman seperti suku Ismaili di Najran dan Jizan yang diera-era sebelumnya mengalami diskriminasi.

Ia juga sering melakukan kunjungan kesetiap negara-negara Islam untuk meningkatkan kerjasama dan demi persatuan Islam.

Ia menyurati Syah Iran yang kebarat-baratan dan menasehatinya untuk jangan meminggirkan budaya Islam. Raja Faisal juga pernah mengunjungi Indonesia.

Dia datang tahun 1970 dan disambut Presiden Soeharto.

Soeharto menyatakan dukungan kepada Raja Faisal dalam upayanya membebaskan Palestina dan memerangi Israel.

Di masa kekuasaannya dia membatasi peran dan otoritas ulama Wahabi. Dia memangkas pengaruh dan dominasi ajaran Wahabi terhadap lembaga keagamaan seperti Majelis Ulama Senior dengan memasukkan ulama-ulama Sunni.

Bahkan ia mengangkat dari ulama Sunni (Sufi) al-Sayyid ‘Alawi ibn ‘Abbas al-Maliki al-Hasani, sebagai mufti besar, dan tidak mengambil kebijakan apapun tanpa lebih dulu meminta nasehatnya.

Kepada ulama-ulama Saudi, dia berkata, “Semua Muslim, dari Mesir, India, dan lain-lain adalah saudaramu, apapun mazhabnya.”

Modernisasi yang dipeloporinya mendapat protes besar-besaran dari kalangan konservatif yang dimobilisasi ulama Wahabi.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved