Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Rusdin Tompo

Opini Rusdin Tompo: Massikola dan Pemberdayaan Melalui Gerakan Literasi

Di Kota Makassar, sejak 2016 hingga 2020, juga punya akumulasi ATS dan anak berisiko putus sekolah terbilang tinggi, yakni total mencapai 4.508 anak.

Tayang:
Editor: Sukmawati Ibrahim
DOK
Rusdin Tompo. Opini Rusdin Tompo: Massikola dan Pemberdayaan Melalui Gerakan Literasi 

Karena, baik ATS maupun APS, berpotensi menjadi anak jalanan dan pengemis, jadi pekerja anak, jadi anak-anak yang dilacurkan (AYLA) atau eksploitasi seksual komersial anak (ESKA). Juga kemungkinan terlibat dan menjadi korban dalam berbagai permasalahan sosial lainnya.

Kolaborasi atas dasar semangat volunterisme ini, niscaya bisa menjadi gerakan moral, bukan saja dalam menyelamatkan anak-anak, tapi juga mengakselerasi kualitas pendidikan pada tingkat dasar.

Baca juga: Opini Firman Mustafa: Disabilitas Sebagai Mercusuar Demokrasi

Baca juga: Opini Anwar Arifin AndiPate: Bandit Intelektual

Pendekatan Literasi

Program Massikola sudah menggunakan pendekatan literasi sebagai bagian dari strategi pemberdayaan ATS/APS.

Hanya saja, literasi yang dilakukan baru sebatas baca-tulis-berhitung, sebagaimana diberitakan. Padahal, ruang lingkup literasi yang dapat digunakan cukup luas dan bisa punya manfaat jangka panjang.

Karena literasi merupakan kemampuan seseorang dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Literasi membuat seseorang dapat berpikir kritis dan menemukan jalan keluar dari masalah yang dihadapi, melalui pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki.

Ada 6 komponen literasi dasar yang perlu digunakan dalam pemberdayaan ATS/APS. Yakni, literasi bahasa dan sastra berupa melek pengetahuan dan kemampuan membaca dan menulis, mencari, menelusuri, mengolah dan memahami informasi.

Literasi numerasi, berupa kemampuan menggunakan berbagai macam angka dan simbol-simbol yang terkait dengan matematika dasar, berfungsi untuk memecahkan masalah praktis dalam konteks kehidupan sehari-hari. Berikutnya, literasi sains, sebagai kemampuan menggunakan pengetahuan sains, dalam rangka memahami serta membuat keputusan yang berkenaan dengan alam.

Ada pula literasi yang terkait kecakapan (life skill) menggunakan perangkat teknologi, informasi dan komunikasi, baik untuk bersosialisasi, pembelajaran, maupun dalam pembuatan konten kreatif di berbagai platform digital.

Lalu literasi finansial untuk memahami bagaimana seseorang cerdas menghasilkan, mengelola, menginvestasikan dan menyumbangkan uang untuk menolong sesama.

Dan terakhir, literasi budaya dan kewargaan yang bertalian dengan pembentukan karakter seorang anak agar mampu berpartisipasi secara aktif dan menginisiasi perubahan dalam komunitas dan lingkungan sosial yang lebih luas. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved