Opini Tribun Timur
Tantangan Indonesia di G20: Perang Rusia-Ukraina, Perubahan Iklim dan Covid-19
Sejak 1 Desember 2021 tahun lalu, Indonesia telah ditunjuk sebagai presiden Kelompok 20, atau G20, sebuah forum antar pemerintah
Pemerintah Indonesia telah mencoba mengatasi kekurangan pasokan minyak goreng baru-baru ini, tetapi meningkatnya permintaan luar negeri dapat semakin memperumit krisis.
Meskipun kenaikan nilai CPO Indonesia sekilas tampak menguntungkan, hal itu dapat mendorong produsen untuk lebih mengalihkan penjualan mereka dari perusahaan minyak goreng yang memasok untuk pasar domestik.
Jika krisis tidak segera ditangani, fokus Indonesia mungkin akan lebih mengarah pada masalah domestik daripada agenda prioritasnya di G20.
Perang Rusia dan Ukraina juga dapat merusak tujuan G20 menuju perubahan iklim dan pemulihan COVID-19 dengan mengalihkan fokus anggota G20 ke pengeluaran militer.
Di satu sisi, pengiriman senjata dan rudal ke perbatasan Rusia-Ukraina mengurangi upaya bersama untuk memasok vaksin dan peralatan medis ke negara-negara berkembang.
Di sisi lain, pengeluaran perang dan militer juga terbukti sangat merugikan lingkungan dan perubahan iklim.
Mesin militer seperti tank, kapal selam, dan pesawat jet menghabiskan banyak energi dan bahan bakar yang tidak dapat diperbarui. Mereka juga mengeluarkan banyak gas rumah kaca (GRK).
Bahkan, pemeliharaan peralatan dan infrastruktur militer di tempat-tempat seperti AS saja dapat mengeluarkan lebih banyak GRK daripada negara lain secara keseluruhan.
Emisi karbon meningkat bersama dengan peningkatan investasi dalam pengeluaran militer, dan menghilangkan sumber daya manusia dan keuangan yang dapat digunakan untuk mitigasi perubahan iklim dan mencegah penyebaran dan masalah kesehatan dari Covid-19.
Peningkatan emisi karbon dari konflik bersenjata sangat mengecewakan mengingat janji dunia yang dibuat pada KTT Perubahan Iklim COP26 November 2021 lalu di Glasgow, Skotlandia.
Janji itu secara khusus menyoroti kebutuhan untuk mengurangi dan pada akhirnya mengganti energi yang tidak dapat diperbarui.
Ini adalah masalah medasar dan kegagalan untuk mengurangi jejak karbon kita dalam abad ini akan meninggalkan efek yang tidak dapat diubah pada suhu bumi yang akan sangat berdampak buruk bagi kehidupan di planet ini.
Pada saat yang sama, ketika negar-negara di dunia sibuk menghadapi ketidakstabilan politik dan keuangan.
Ini akan mempersulit kerjasama untuk meningkatkan respons kesehatan terhadap COVID-19 dan kemajuan lebih lanjut dalam energi berkelanjutan, sistem digital, dan mitigasi perubahan iklim.
Indonesia telah mengambil langkah pertama dengan bersikap bahwa seluruh anggota G20 bertemu meskipun ada persaingan.
Pertemuan yang melibatkan semua pihak sangat penting.
Selanjutnya adalah meyakinkan mereka untuk memprioritaskan kesepahaman dan kompromi demi perdamaian, kelangsungan hidup, dan kemakmuran bersama.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Rifqy-Tenribali-Eshanasir-Pengamat-hubungan-internasional.jpg)