Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Tribun Timur

Tantangan Indonesia di G20: Perang Rusia-Ukraina, Perubahan Iklim dan Covid-19

Sejak 1 Desember 2021 tahun lalu, Indonesia telah ditunjuk sebagai presiden Kelompok 20, atau G20, sebuah forum antar pemerintah

Tayang:
Editor: Sudirman
Rifqy Tenribali
Rifqy Tenribali Eshanasir, Pengamat hubungan internasional/alumnus Ritsumeikan Asia Pacific University, Beppu, Jepang 

Edi Prio Pambudi, Deputi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Co-Sherpa Presidensi G20 Indonesia 2022 menyatakan bahwa secara tradisi, presiden G20 selalu mengundang semua anggota, termasuk pertemuan G20 tahun ini.

Beberapa pengamat mungkin melihat Indonesia tampak ragu-ragu atau tidak tegas menghadapi agresi Rusia di Ukraina.

Namun, sikap ini sesuai dengan prinsip-prinsip dan dasar politik luar negeri Indonesia.

Yaitu ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial sebagaimana tercantum dalam alinea ke-4 Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.

Indonesia tentu harus memanfaatkan kepresidenan G20 sebagai kesempatan untuk menjadi salah satu mediator perdamaian (pro peace agents) di tengah persaingan sengit negara-negara besar yang banyak memiliki kemiripan dengan era perang dingin.

Tak pelak lagi agresi Rusia di Ukrainan menjadi masalah penting.

Perang Rusia-Ukraina mengalihkan perhatian dan sumber daya G20 dari isu-isu prioritas mereka.

G20 harus menghadapi implikasinya terhadap ekonomi global, pemulihan Covid-19, perubahan iklim, dan pembangunan.

Tantangan paling mendesak adalah resesi ekonomi global yang besar, yang awalnya disebabkan oleh pandemi Covid-19 pada tahun 2020 yang memperlambat rantai pasok.

Resesi itu sekarang diperburuk oleh invasi Ukraina Rusia dan sanksi yang diterapkan Barat sebagai balasannya.

Baik Rusia maupun Ukraina adalah pemasok utama minyak, gandum, dan mineral.

Jadi, meski konflik mereka awalnya hanya mengganggu sistem perdagangan dan keuangan di Eropa, kini dampaknya sudah mendunia.

Resesi ekonomi yang diakibatkan perang di Ukraina potensil memiliki dampak yang unik bagi Indonesia dan pada gilirannya mempengaruhi kemampuannya untuk memimpin G20.

Salah satu dampak perang adalah, karena pasokan minyak bunga matahari Rusia dan Ukraina ke Eropa telah melambat, kawasan itu telah beralih ke minyak sawit mentah (CPO), salah satu komoditas ekspor terbesar Indonesia, untuk menggantikan kebutuhan terkait minyak mereka.

Hal ini mungkin secara tidak langsung memperburuk kelangkaan minyak goreng yang sudah ada di negara ini selama beberapa bulan terakhir.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved