Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kolom Ahmad M Sewang

Khazanah Sejarah: Fanatik Sebagai Musuh Utama

SALAH satu bahasan utama Syekh Yusuf al-Qardawi adalah larangan fanatik buta, baik pada kelompok, mazhab, bahkan pikiran atau pendapat sendiri.

Editor: Jumadi Mappanganro
TRIBUN TIMUR/DESI TRIANA ASWAN
Prof Dr Ahmad M Sewang MA 

Salah satu ulasan al-Qardawi yang panjang lebar dibahas adalah fanatik terhadap pendapat pribadi atau التعصب للراي الشخصى

Bahaya fanatisme terhadap diri sendiri, sebab bisa menjadikan pendapatnya sebagai ilah atau berhala.

Penerbangan Domestik di Bandara Sultan Hasanuddin Masih Diizinkan Beroperasi Hari Ini

Al-Qardawi pun memberi metafora yang menarik tentang orang fanatik terhadap pendapatnya sendiri. Di bawah ini sengaja dikutip aslinya,
والمتعصب أشبه بامرىء يعيش وحد ه فى بيت من المرايا،
فلا يرى فيها غير شخصه اينما ذهب يمنه او يسرة، وكذلك المتعصب لا يرى، رغم كثرة الاراء، غير رايه، فهو مغلق على وجهة نظره وحدها، ولا يفتح عقله لوجهة سواها، يزعم انه الاذكى عقلا، والاوسع علما، والاوى دليلا، وإن لم يكن لديه عقل يبدع، ولا علم يشبع ولا دليل يقنع. الصخوة, 200,

Seorang yang fanatik tak ubahnya seperti orang hidup sendirian di dalam sebuah rumah yang terbuat dari kaca atau cermin.

Ke mana pun pergi di dalan rumah itu, ia tidak melihat kecuali dirinya sendiri. Demikian pula keadaan seorang fanatik.

Kendati pun terdapat banyak pendapat lain, tetapi ia tidak dapat melihat kecuali pendapatnya sendiri.

Ia tertutup oleh pandangannya sendiri. Ia tidak dapat membuka pikiran untuk menerima pendapat orang lain.

Ia mengira dirinya paling pintar, paling luas ilmunya, paling kuat dalilnya dan paling segalanya, kendati pun kenyataannya tidak demikian.

Akhirnya, saya tutup tulisan ini dengan pandangan Imam Abu Hanifah yang berkata:

- قولُنا هذا رأيٌ وهو أحسنُ ماقَدًرْنا عليه فمن جَائَنَا بأحسنِ مِنْ قولِنا فهو أَوْلىَ بالصواب منا

Pendapat yang kami sampaikan adalah yang terbaik yang dapat kami usahakan.

Tetapi, jika ada orang yang datang membawa pendapat yang lebih baik, maka itulah lebih pantas diikuti daripada pendapat kami.

Pendapat Imam Abu Hanifah di atas sengaja dikutip untuk memperkaya etika intelektual dan mubalig yang sedang kami susun.

Kerendahan hati Imam Abu Hanifah yang menghargai pendapat orang lain dan menyuruh menerimanya dan menghiraukan pendapatnya sendiri, jika pendapat orang lain itu dianggap lebih benar.

Pandangan ini sungguh perlu diteladani bagi orang yang ingin jadi ulama sungguhan. (*)

Wassalam,

Makassar, 1 Ramadan 1441 H/24-4-2020

Baca juga kolom Ahmad M Sewang yang lain: 

Renungan Menjelang Ramadan

Marhaban Ya Ramadan, Selamat Memasuki Bulan Suci Ramadan

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved