Kolom Ahmad M Sewang
Khazanah Sejarah: Fanatik Sebagai Musuh Utama
SALAH satu bahasan utama Syekh Yusuf al-Qardawi adalah larangan fanatik buta, baik pada kelompok, mazhab, bahkan pikiran atau pendapat sendiri.
Oleh: Ahmad M Sewang
Guru Besar UIN Alauddin Makassar - Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Ikatan Masjid Mubalig Indonesia Muttahidad (IMMIM)
SALAH satu bahasan utama Syekh Yusuf al-Qardawi adalah larangan fanatik buta, baik pada kelompok, mazhab, bahkan pikiran atau pendapat sendiri.
Larangan itu dimaksudkan agar tetap terpelihara objektivitas. Seorang muslim yang baik, sanggup menghargai kebenaran sekali pun dari rivalnya sendiri.
sebaliknya berani menyalahkan sekali pun dirinya sendiri, seperti yang dicontohkan ulama besar Imam Syafii. Beliau mengubah fatwanya sendiri tatkala beliau pindah ke Mesir yang berbeda saat beliau di Irak.
Perlu dipahami bahwa yang dilarang bukan berkelompok, berorganisasi atau bermazhab, tetapi yang dilarang adalah fanatik buta.
Karena di tempat lain al-Qardawi menjelaskan, "Saya tidak pernah sedih, jika setiap saat berdiri madrasah, organisasi, dan mazhab baru, sebab itu adalah nature. Tetapi yang saya sedihkan jika mereka berubah jadi fanatik sehingga saling menafikan satu dengan yang kain."
• Jamaah Masjid Nurul Imam di Bantaeng Tetap Laksanakan Salat Jumat, Tak Takut Virus Corona ?
Jika ini terjadi, maka yang muncul pertikaian terus-menerus. Sudah sering terdengar sebagai akibat sikap fanatisme, kebenaran hanya dari dia atau kelompoknya.
Sedangkan di luar dari mereka harus ditolak bahkan lebih ekstrem lagi dianggapnya sesat atau kafir.
Sementara Nabi sendiri dalam hadis sahihnya mengatakan:
كفوا عن اهل لااله الا الله لاتكفرواهم بذنب، من كفر اهل لااله الاالله فهو الى الكفر اقرب
Barang siapa mengafirkan orang yang menucapkan lailaha illallah, maka ia lebih dekat kepada kekafiran.
Dalam sebuah kisah di masa Nabi tentang Usamah bin Zaid yang membunuh seorang lelaki dalam suatu pertempuran, setelah mengucapkan la ilaha illallah.
Tetapi, tetap Usamah membunuhnya dengan alasan ucapannya itu sebagai tamen kepura-puraan karena menghindari kematian.
Kejadian ini sampai pada Nabi dan beliau mengecam Usamah dengan berkata, هلا شققت عن قلبه
Apakah engkau telah membedah dadanya? (Untuk mengetahui bahwa ia berpura-pura). الصحوة 176.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/prof-dr-ahmad-m-sewang-ma-8.jpg)