Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Muhasabah Ke-29: Mudik

Mudik adalah momen ketika kita yang meninggalkan rumah dan pergi ke kampung halaman.

Tayang:
Editor: Muh Hasim Arfah
Tribun-timur.com
TRIBUN OPINI - Salman Ahmad 

Kalau sebelum meninggalkan rumah karena mudik, kita begitu teliti memeriksa kompor, pintu, jendela, dan keran, agar tidak ada yang rusak setelah kita pergi, atau agar tidak ada yang terlupa, maka sebelum Ramadhan benar-benar pergi, rasanya hati pun ingin melakukan hal yang sama. Bukan dalam bentuk kata-kata besar. Hanya sederhana: adakah yang masih tercecer? adakah yang belum sempat dibereskan? adakah yang masih berantakan di dalam dada, sementara Ramadhan hampir selesai?

Rumah yang ditinggal mudik, insyaAllah masih bisa dibuka lagi dengan kunci saat kita pulang. Tetapi Ramadhan yang pergi, tidak tinggal menunggu di balik pintu. Ia benar-benar berlalu. Karena itu, mudik bukan hanya perjalanan pulang ke kampung halaman. Ia juga seperti isyarat, bahwa sebelum sebuah musim ditinggalkan, ada yang perlu dibereskan dengan hati-hati.

Mudik adalah saat kita meninggalkan rumah, lalu pergi. Lebaran justru kebalikannya: Ramadhanlah yang pergi, dan meninggalkan kita.

Yang satu membuat rumah terasa sepi. Yang satu lagi membuat dada terasa sunyi. Karena itu, kalau sebelum mudik kita sempat memeriksa dan merapikan rumah yang akan ditinggal, maka sebelum Ramadhan benar-benar berlalu, semoga rumah yang di dada pun sempat kita bereskan. (*) 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved