Ramadan 1447 H
Ramadan ke-28: I’tikaf Anak Muda, Menjemput Lailatul Qadar Menuju Fitrah
Di Masjid Raya, terjadi lonjakan jamaah i’tikaf yang cukup mencolok, di mana sekitar 40 persen di antaranya didominasi oleh generasi Z.
Oleh Makmur Idrus
Senior GP Ansor Sulawesi Selatan
TRIBUN-TIMUR.COM- Ramadan memasuki fase paling sunyi sekaligus paling menentukan. Hari ke-28 bukan sekadar hitungan waktu, tetapi penanda bahwa kesempatan hampir habis. Di tengah hiruk pikuk dunia—diskon Lebaran, jalanan macet, dan pusat perbelanjaan yang penuh—ada fenomena menarik yang mulai tampak: anak-anak muda kembali memenuhi masjid untuk i’tikaf.
Ini bukan pemandangan biasa. Generasi yang sering dituduh sibuk dengan gawai, kopi, dan konten digital, justru kini berbondong-bondong mencari ketenangan dalam sunyi malam. Mereka duduk bersila, membuka Al-Qur’an, berzikir, atau sekadar menundukkan kepala dalam diam yang penuh makna. Ada sesuatu yang bergerak di dalam batin mereka—sesuatu yang tak bisa dibeli di mall.
Fenomena ini bahkan terlihat nyata di Makassar. Di Masjid Raya, terjadi lonjakan jamaah i’tikaf yang cukup mencolok, di mana sekitar 40 persen di antaranya didominasi oleh generasi Z. Ini bukan sekadar angka, tetapi sinyal sosial. Generasi yang sering dianggap paling dekat dengan dunia digital, justru menunjukkan kedekatan yang tak kalah kuat dengan ruang spiritual.
Lebih menarik lagi, Gen Z ini dilaporkan lebih antusias mengikuti salat lail—tahajud, zikir, dan doa malam—dibandingkan generasi milenial. Di wilayah Makassar hingga Gowa, masjid-masjid yang biasanya lengang di tengah malam kini justru hidup oleh anak-anak muda. Mereka datang bukan karena kewajiban sosial, tetapi karena dorongan batin yang lebih personal.
Baca juga: Parcel Lebaran dan Bau Kekuasaan
I’tikaf dalam konteks ini menjadi semacam “detoks spiritual”. Dalam dunia yang bising oleh opini, ambisi, dan distraksi, manusia membutuhkan ruang untuk kembali kepada dirinya sendiri. Masjid menjadi tempat paling jujur—tidak ada jabatan, tidak ada status sosial, tidak ada pencitraan. Yang ada hanya manusia dan Tuhannya.
Fenomena ini sekaligus mematahkan stereotip lama. Kita sering menganggap generasi muda sebagai generasi yang jauh dari nilai-nilai spiritual. Tetapi realitas menunjukkan hal yang lebih kompleks. Mereka mungkin tidak selalu tampil dalam simbol-simbol keagamaan yang formal, tetapi ketika menemukan momentum seperti Ramadan, mereka justru menunjukkan kedalaman yang mengejutkan.
Lailatul Qadar menjadi magnet yang tak terlihat. Malam yang lebih baik dari seribu bulan ini seperti teka-teki kosmik—tidak pasti waktunya, tetapi pasti keberkahannya. Di sinilah letak keindahannya: manusia dipaksa untuk bersungguh-sungguh, bukan sekadar menunggu. I’tikaf menjadi strategi spiritual untuk “menangkap” malam tersebut.
Namun, ironi tetap ada. Ketika sebagian anak muda memadati masjid, sebagian yang lain justru larut dalam euforia dunia. THR cair, warkop penuh, belanja meningkat—semua sah, tetapi menjadi problem ketika melupakan esensi Ramadan. Seolah-olah kita lebih sibuk menyambut Lebaran daripada mempersiapkan diri untuk layak merayakannya.
Di sinilah i’tikaf menemukan relevansinya. Ia bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga bentuk perlawanan terhadap gaya hidup yang terlalu duniawi. I’tikaf mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu identik dengan konsumsi, tetapi dengan kesadaran. Kesadaran bahwa hidup ini sementara, dan setiap detik memiliki nilai jika diarahkan dengan benar.
Anak muda yang i’tikaf sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang revolusioner. Mereka sedang “mengambil jeda” dari sistem yang terus mendorong produktivitas tanpa makna. Dalam bahasa sederhana: mereka berhenti sejenak untuk memastikan bahwa hidup mereka tidak sekadar berjalan, tetapi juga berarti.
Menuju fitrah bukan perjalanan instan. Ia bukan sekadar memakai baju baru di hari raya, tetapi membersihkan diri dari kebiasaan lama. I’tikaf menjadi semacam “laboratorium batin” di mana manusia menguji dirinya sendiri—apa yang harus ditinggalkan, dan apa yang harus diperkuat setelah Ramadan berakhir.
Fitrah adalah keadaan paling jujur manusia—tanpa kepalsuan, tanpa kesombongan, tanpa kerak dunia yang menempel. Masalahnya, banyak orang ingin kembali ke fitrah tanpa proses. Padahal, seperti besi yang ditempa, jiwa juga perlu “dipanaskan” oleh ibadah agar menjadi kuat dan bersih.
Fenomena i’tikaf anak muda ini memberi harapan. Di tengah narasi pesimis tentang generasi masa depan, ternyata masih ada energi spiritual yang hidup. Mereka mungkin tidak selalu terlihat di ruang-ruang formal, tetapi di malam-malam sunyi Ramadan, mereka sedang membangun dirinya sendiri—diam-diam, tetapi nyata.
Ramadan ke-28 akhirnya menjadi cermin. Ia memperlihatkan dua wajah manusia: yang tenggelam dalam dunia, dan yang berusaha melampauinya. Dan di antara lantunan doa anak-anak muda yang memenuhi masjid itu, ada satu pesan yang sederhana tapi kuat: masa depan tidak selalu bising—kadang ia lahir dari sunyi, dari sajadah, dari air mata yang jatuh tanpa diketahui siapa pun, kecuali Tuhan.(*)
| Celengan Masjid Agung Bulukumba Selama Ramadan Capai Rp 207 Juta, Islamic Center Rp16 Juta |
|
|---|
| ARW Bantu Warga Sambut Lebaran, 2.200 Paket Sembako Disalurkan |
|
|---|
| Ramadan Berbagi, Dharma Wanita UPBU Arung Palakka Salurkan Sembako ke Panti Hidayatullah Bone |
|
|---|
| Gerindra Makassar Buka Puasa, Eric Horas: Anggota DPRD Alat Komunikasi Wujudkan Kebutuhan Rakyat |
|
|---|
| NasDem Makassar Bagikan Takjil di Bontoala dan Panakkukang, Sasar Pedagang hingga Ojol |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260303_Makmur-Idrus_Makmur-menulis-soal-parcel-dan-lebaran.jpg)