Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Musim Kemarau

Empat Daerah di Sulsel Masuk Musim Kemarau

Kriteria tersebut digunakan BMKG memastikan penurunan curah hujan terjadi secara konsisten.

Tayang:
Penulis: Faqih Imtiyaaz | Editor: Ansar
Tribun-timur.com
MUSIM KEMARAU - Langit berawan menyelimuti wilayah sekitar Waduk Tunggu Pampang, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan pada Minggu (24/5/2026). Musim kemarau baru melanda Selayar, Takalar, Jeneponto dan Gowa. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sebangian besar wilayah di Sulawesi Selatan belum memasuki musim kemarau.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar mencatat musim kemarau baru melanda wilayah selatan Sulsel,

"Berdasarkan dasarian II Mei 2026, di beberapa wilayah itu telah memasuki musim kemarau. Di Kepulauan Selayar telah memasuki kemarau sejak Maret 2026. Sebagian besar Takalar, Jeneponto serta Gowa bagian selatan sudah memasuki kemarau pada April," ujar Prakirawan BMKG, Amhar Ulfiana saat dihubungi pada Minggu (24/5/2026).

Sesuai kriteria BMKG, wilayah dinyatakan memasuki musim kemarau apabila dalam tiga dasarian berturut-turut dengan curah hujan kurang dari 50 milimeter per dasarian. 

Satuan waktu dasarian yakni 10 hari dalam satu bulan.

Artinya total curah hujan dari ketiga dasarian tersebut kurang dari 150 milimeter.

"Awal penentuan musim kemarau harus melihat data 30 harinya. Kalau 30 harinya berarti dari tanggal 21 April - 20 Mei belum ada lagi yang masuk musim kemarau selain yang tadi disebutkan," ujar Amhar.

Kriteria tersebut digunakan BMKG memastikan penurunan curah hujan terjadi secara konsisten.

Khusus Makassar sempat dikejutkan dengan curah hujan yang sempat meningkat drastis pada 17-19 Mei lalu.

Amhar menyebut kondisi itu sebagai anomali yang umum terjadi.

"Memang ketika ada kondisi anomali di satu hari atau beberapa hari itu disebabkan fenomena cuaca harian. Misalkan kejadian 18 Mei, ada kondisi NGO, gelombang Rossby dan gelombang kelvin di Sulsel," jelasnya.

Hal ini senada yang diungkapkan Prakirawan BMKG IV Makassar Retno Noviana menyebut ada gelombang ekuator yang aktif secara bersamaan dan memicu pembentukan awan hujan di Makassar saat itu.

“Kondisi ini dipengaruhi aktifnya empat gelombang ekuator, yaitu depresi tropis, MJO, gelombang Rossby, dan gelombang Kelvin,” jelasnya.

Depresi tropis merupakan sistem tekanan udara rendah di wilayah tropis yang memicu pergerakan udara naik dan pembentukan awan hujan. 

Madden-Julian Oscillation adalah gelombang atmosfer yang bergerak dari barat ke timur di sekitar ekuator, membawa area udara lembap. 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved