Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Muhasabah Ke-29: Mudik

Mudik adalah momen ketika kita yang meninggalkan rumah dan pergi ke kampung halaman.

Tayang:
Editor: Muh Hasim Arfah
Tribun-timur.com
TRIBUN OPINI - Salman Ahmad 

Lampu dimatikan. 

Jendela ditutup.

Makanan di meja dibereskan. Jemuran diangkat.

Pintu belakang dikunci.

Pintu depan ditarik sekali lagi, kadang dua kali, untuk memastikan semuanya benar-benar siap ditinggalkan. 

Bahkan ada beberapa bagian yang selalu dicek ulang, padahal sebelumnya sudah dicek.

Untuk memastikan. 

Yang menarik dari kebiasaan mudik ini adalah; Kita tidak pernah meninggalkan rumah dengan sembarangan.

Sebab kita tahu, rumah yang ditinggal dalam keadaan tidak beres, akan menyisakan kegelisahan sepanjang perjalanan.

Maka sebelum mudik, kita rapikan dulu yang bisa dirapikan.

Kita amankan dulu yang bisa diamankan. 

Kita bereskan dulu yang jika dibiarkan, nanti bisa menjadi masalah.

Mudik adalah momen ketika kita yang meninggalkan dan pergi. Kita tinggalkan rumah beberapa hari. Kita berangkat menuju kampung halaman. Kita pamit dari ruang-ruang yang akrab: dapur, meja makan, kamar, sajadah di sudut rumah, dan suara-suara kecil yang setiap hari membersamai hidup.

Tetapi menjelang lebaran, peristiwanya berbeda. Kali ini bukan kita yang meninggalkan. Justru Ramadhan yang pergi dan meninggalkan kita. Selama sebulan, ia telah mengubah irama rumah-rumah kita. Dapur hidup sebelum fajar. Piring-piring berbunyi saat langit masih gelap. Gelas-gelas berbaris untuk sahur. Menjelang maghrib, meja makan terasa lebih hangat dari biasanya. Kurma menjadi istimewa. Seteguk air terasa seperti nikmat yang tak pernah sederhana. Malam-malam pun berubah: ada tarawih, ada tilawah, ada doa-doa yang pelan, jujur, dan lebih dekat.

Lalu sekarang, di hari ke-29 ini, suasananya mirip seperti kita berdiri di depan pintu sekali lagi. Jika saat mudik, kita yang bergerak mengunci rumah lalu pergi, meninggalkan rumah. Sedangkan menjelang lebaran, kita hanya berdiri terpaku, menyaksikan bulan yang mulia, yang selama ini menghidupkan rumah dan hati, perlahan sedang beranjak pergi. Ia meninggalkan kita. 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved