Opini
Dari Warung Kopi ke TikTok: Evolusi Ruang Ketiga Perokok Muda
Sebatang rokok berpindah tangan, disulut bersama, lalu menjadi simbol keakraban yang sulit dipisahkan dari suasana.
Kondisi ini menjadi tantangan baru bagi promosi kesehatan. Selama bertahun-tahun, berbagai kampanye pengendalian tembakau berfokus pada penyampaian informasi mengenai dampak kesehatan rokok.
Pendekatan tersebut tetap penting, tetapi tampaknya tidak lagi cukup.
Karena itu, upaya promosi kesehatan perlu bergerak melampaui pendekatan yang hanya berfokus pada risiko.
Kita perlu memahami bagaimana identitas dan budaya anak muda dibentuk di ruang digital. Kita perlu hadir dalam percakapan yang sedang berlangsung, bukan hanya menyampaikan pesan dari luar.
Jika normalisasi rokok terjadi di ruang ketiga, maka intervensi kesehatan juga harus hadir di ruang yang sama.
Media sosial bukan hanya tempat menyebarkan informasi kesehatan. Ia adalah arena tempat makna diproduksi.
Di sana, generasi muda belajar tentang siapa diri mereka, apa yang dianggap keren, dan bagaimana mereka ingin dilihat oleh orang lain.
Pada akhirnya, tantangan pengendalian tembakau di era digital bukan hanya tentang mengurangi jumlah batang rokok yang dihisap.
Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana menciptakan ruang sosial yang memungkinkan anak muda membangun identitas, memperoleh pengakuan, dan menjalin pertemanan tanpa harus menjadikan rokok sebagai bagian dari proses tersebut.
Dari warung kopi hingga TikTok, ruang ketiga terus berubah mengikuti zaman.
Pertanyaannya sekarang, apakah upaya promosi kesehatan juga mampu berevolusi secepat ruang yang sedang membentuk generasi muda kita?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-06-03-Nur-Afiaty-Mursalim.jpg)