Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Amir Muhiddin

CIDES ICMI, Ddapur Gagasan Perubahan

Yang kedua keinginan untuk menjadikan hasil-hasil riset sebagai basis dalam menyususan program pembangunan, baik di pusat maupun di daerah.

Tayang:
Ist
OPINI - Amir Muhiddin, Dewan Pakar CIDES ICMI Sulsel 

Ini penting dan sesuai apa yang dikemukakan oleh Prof Arif Satria bahwa “Dunia Bergerak ke Era Presisi”, dunia saat ini sedang bertransisi menuju era personalisasi dan presisi tinggi.

Di sektor pertanian, teknologi kini mampu menghitung kebutuhan pupuk per individu tanaman.

Sementara di sektor kesehatan, pendekatan genomik membuat pengobatan dapat disesuaikan secara spesifik dengan karakter genetik pasien.

ICMI harus mampu beradaptasi dengan cara berpikir baru ini.

Ditekankan lagi bahwa pentingnya Endurance dalam Riset, penting kata beliau di tengah budaya masyarakat modern yang serba instan dan cepat, beliau mengingatkan para akademisi dan peneliti di Sulawesi Selatan untuk memiliki daya tahan jangka panjang (endurance) dalam melakukan riset-riset mendalam agar menghasilkan penemuan yang kuat.

Keinginan untuk menjadikan hasil-hasil riset sebagai basis dalam menyususan program pembangunan, baik di pusat maupun di daerah tidak cukup hanya jadi dokumen, oleh sebab itu SIDES ICMI harus menjalin hubungan dengan berbagai stick holder sebagai pengguna hasil riset Prof. Arif Satria lanjut mengemukakan bahwa inovasi besar tidak bisa lahir sendirian.

ICMI harus memosisikan diri sebagai wadah yang mempertemukan tiga pilar: akademisi (penyedia riset), pemerintah (pembuat kebijakan), dan dunia usaha (penyedia investasi dan akses pasar).

Gagasan Harus Menjadi Aksi Nyata: Cendekiawan bukan lagi sekadar komentator atau pengamat di “menara gading”.

Segala hasil diskusi dan seminar harus segera dikonversi menjadi institusi atau program konkret, seperti penguatan sektor pendidikan dan sekolah berbasis keahlian di daerah.

Bupati Barru, Dr. Ina Kartikasari, SH. M,Si sekaligus ketua ICMI Barru yang berbicara dalam sesi dialog dengan Prof. Satria mengemukakan keinginannya untuk mengundang CIDES ICMI dan BRIN menjalin kerjasama untuk melakukan riset di daerahnya yang kaya akan sumber daya alam laut, pertanian dan potensi sumber daya alam lainnya.

Undangan Ibu bupati ini tentu saja penting di tengah asumsi sebagian pemerintah daerah bahwa riset memerlukan dana yang besar, waktu yang lama dan seringkali hasilnya makro, teoritis dan kurang relevan. serta kurang sesuai dengan kebutuhan praktis di lapangan.

Sesungguhnya celah relevansi (relevance gap) memang harus diakui. Bahkan bukan hanya itu, riset yang dihasilkan perguruan tinggi sering terkendala oleh faktor politik dimana pemerintah hanya mau menerima hasil penelitian yang menguntungkan bagi diri dan rezimnya.

Kehadiran lembaga riset non pemerintah seperti CIDES (Center for Information and Development Studies) ICMI Sul-Sel tentu saja diharapakn bisa menjadi solusi atas berbagai permasalahan riset sebagaimana diuraikan di atas.

Disadari benar bahwa organisasi ini memiliki sumber daya potensial, relatif lebih objektif dan indevenden.

Harapan itu semakin kuat karena CIDES ICMI Sul-Sel yang dinahodai oleh Dr. Adi Suryadi Culla sebagai ketua dan Dr. Andi Luhur Prianto sebagai sekretaris, serta sederet nama besar penuh pengalaman seperti Prof. Aris Munandar dan Prof. Parida Patintingi sebagai ketua dan sekretaris ICMI Sul-Sel. Semoga.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved