Opini Hidayah Muhallim
“Riding the Wave” dan Oportunisme Politik
Tokoh politik dipaksa bermain di ujung proses karena seluruh proses dari awal hingga akhir telah dikondisikan dan dibeli oleh kekuatan modal.
Oportunisme politik ditandai oleh kecenderungan para aktor yang lebih suka bermain di ujung proses ketimbang terlibat sejak awal.
Mereka enggan berpayah-payah dalam pendidikan politik, kaderisasi ideologis, atau mengadvokasi isu-isu kerakyatan dari akar rumput.
Saat sebuah isu atau momentum politik menguat dan siap memberikan keuntungan elektoral, maka mereka datang mengklaim diri sebagai pahlawan.
Dalam kacamata sosiologi politik, gejala ini sangat lekat dengan teori "Tindakan Rasional Instrumental".
Menurut Max Weber, tindakan itu didasarkan atas perhitungan untung-rugi demi mencapai tujuan pribadi, tanpa memedulikan nilai, etika, atau proses jangka panjang.
Oportunisme akut ini juga mereduksi partai politik yang seharusnya menjadi pilar demokrasi dan agregator kepentingan publik, menjadi sekadar rental parties yang siap ditumpangi oleh siapa saja yang bermodal besar di tikungan akhir.
Fenomena pemanfaatan momentum instan ini tampak pula dalam dinamika komunikasi politik yang bergeser ke arah populis-digital.
Langkah politik yang memanfaatkan tren viral seperti penggunaan jingle musik berlatar belakang MBG yang sedang populer di media sosial menjadi strategi andalan.
Secara komunikasi politik, upaya short-cut tersebut bertujuan untuk meraih popularitas instan.
Secara elektoral, strategi itu bisa berdampak positif dalam mendongkrak pengenalan (awareness) publik secara cepat terutama bagi kalangan pemilih muda.
Namun, sosiolog Jean Baudrillard menyebutnya sebagai bentuk simulakra politik, di mana citra, kemasan, dan jingle hiburan sengaja diproduksi untuk menutupi kekosongan substansi ideologi dan program kerja yang nyata.
Popularitas diraih, namun pendidikan politik publik diabaikan.
Cengkeraman Oligarki
Tantangan terbesar dalam mengendalikan arah dan menciptakan gelombang politik adalah penguasaan "samudera" politik Indonesia oleh segelintir orang.
Di balik riuh rendah para tokoh politik yang berselancar mencari popularitas, ada oligarki politik dan ekonomi yang bertindak sebagai pengendali arah angin, pembuat ombak buatan, sekaligus pemilik papan selancarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Hidayah-Muhallim-Peneliti-Penta-Helix-Indonesia-dan-Sekum-MW-KAHMI-Sulsel-89.jpg)