Opini Hidayah Muhallim
“Riding the Wave” dan Oportunisme Politik
Tokoh politik dipaksa bermain di ujung proses karena seluruh proses dari awal hingga akhir telah dikondisikan dan dibeli oleh kekuatan modal.
Oleh: Hidayah Muhallim
Pemerhati Sosial Politik Kontemporer
TRIBUN-TIMUR.COM - Suatu sore di Pantai Waikiki, Kota Honolulu, saya duduk-duduk santai menikmati indahnya pemandangan.
Semilir angin sepoi-sepoi berhembus menyentuh kulit dengan lembut dan membawa aroma khas Samudera Pasifik.
Seketika perhatian saya tertuju pada deburan ombak dan kerumunan para peselancar dengan insting yang sama dalam membaca alam.
Mereka duduk di atas surfing board, mengapung tenang, memperhatikan horizon, lalu mengayuh sekuat tenaga saat gelombang datang.
Di laut, seni berselancar adalah tentang ketepatan waktu dan ketangkasan memanfaatkan momentum yang diciptakan oleh alam.
Saya pun mulai menuliskannya sebagai bahan paper presentasi untuk tugas kuliah fenomena sosial dan menjadi memori indahku hingga saat ini.
Saat kembali ke Indonesia, saya mendapati pemandangan yang sama di Pantai Kuta, Bali.
Para peselancar berbaris acak menunggu ombak, lalu menungganginya sambil menari nari di atas surfing board.
Pemandangan seperti itu tidak lagi menjadi khas Hawaii tetapi sudah menjadi fenomena global.
Saya pun berspekulasi bahwa terminologi “riding the wave” dalam khasanah politik kontemporer mungkin dicuplik dari situasi seperti itu.
Ketika logika berselancar dimutasikan ke dalam ruang demokrasi-politik Indonesia hari ini, fenomena itu tak kalah menarik tetapi sekaligus menggelisahkan.
Masalahnya, para peselancar politik seringkali enggan ikut berkeringat menciptakan gelombang.
Tetapi mereka menunggu di tikungan, dan hanya ingin menikmati sensasi berdiri di puncak ombak saat segalanya sudah siap.
Opportunisme Politik
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Hidayah-Muhallim-Peneliti-Penta-Helix-Indonesia-dan-Sekum-MW-KAHMI-Sulsel-89.jpg)