Opini
Waisak Gemakan Perdamaian
Umat Buddha melakukan Pujabakti Waisak di candi, vihara ataupun cetiya dimana mereka berada.
Menindaklanjuti surat edaran di atas, Ketua Umum Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Prof. Dr. Philip K. Widjaja mengajak untuk bersama-sama mengadakan berbagai kegiatan sosial, lingkungan, keagamaan, dan kebangsaan, antara lain:
1) Kegiatan Sebulan Pendalaman Dhamma, seperti: pembacaan Paritta di vihara, cetiya, dan kampus; gerakan Upavāsa (puasa Buddhis) melalui pelaksanaan Atthasīla (delapan aturan kemoralan) sebulan penuh; pelaksanaan Samajjhaņha Bhojanā (makan bersama dengan penuh kesadaran dan kewaspadaan) setiap hari Senin; dan Dhammasākacchā (pembahasan Dhamma).
2) Kegiatan Ekoteologi, Gerakan Eco Enzyme dan Gerakan Bersih-bersih Rumah Ibadah, seperti: Gerakan 3R (Reduce, Recycle, Re-use) di lingkungan Rumah Ibadah Agama Buddha, Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha, Dhammasekha, dan Sekolah; serta Fang Shen (pelepasan makhluk hidup).
3) Kegiatan Sosial, seperti : ziarah Taman Makam Pahlawan, donor darah, bakti sosial pengobatan gratis dan bakti sosial anti tengkes.
4) Gerakan Hening Nusantara dan Kegiatan Perayaan Trisuci Waisak 2570 BE/Tahun 2026 diberi nama “Sannipata Waisak”.
Gema Waisak
Hari Trisuci Waisak mengingatkan bahwa perdamaian dunia tidak hanya lahir dari perjanjian antarnegara, tetapi juga dari cara manusia memperlakukan sesama dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai kasih sayang, pengendalian diri, dan welas asih yang diajarkan Buddha tetap relevan di tengah konflik, polarisasi, dan krisis kemanusiaan saat ini.
Momentum Waisak juga menjadi pengingat bahwa keberagaman tidak harus menjadi sumber perpecahan.
Justru, perbedaan budaya, agama, dan pandangan dapat menjadi kekuatan jika dibangun dengan saling menghormati.
Perdamaian dunia dimulai dari hal sederhana: menahan kebencian, mengurangi ego, dan membuka ruang dialog.
Dalam konteks global, gema perdamaian dari Waisak penting karena dunia sedang menghadapi banyak ketegangan—perang, intoleransi, hingga krisis sosial.
Pesan “hidup harmonis” bukan sekadar simbol keagamaan, tetapi kebutuhan nyata agar manusia tidak terus terjebak dalam konflik berkepanjangan.
Tema Waisak
Tema ini mengajak umat Buddha untuk menjadi pribadi yang lebih lembut, menjaga ucapan, tidak mudah tersinggung, hidup sederhana, membantu sesama, dan membawa ketenangan di mana pun berada.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Hasdy-SSi-Msi-Pengurus-Permabudhi-Sulsel-dan-Makassar-5.jpg)