Opini
Normalisasi Gaya Hidup Modern dan Erosi Budaya Makassar
Perubahan gaya hidup dalam masyarakat modern sering kali dipahami sebagai konsekuensi logis dari globalisasi.
Gaya hidup berubah menjadi konsumsi simbolik yang berorientasi pada citra, bukan makna.
Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk mengembalikan posisi budaya sebagai kompas sosial.
Media, institusi pendidikan, dan tokoh masyarakat memiliki peran strategis dalam membangun wacana kritis.
Gaya hidup boleh berubah, tetapi nilai dasar seperti kehormatan, solidaritas, dan tanggung jawab sosial harus tetap dijaga.
Tanpa itu, Makassar berisiko menjadi kota yang modern secara tampilan, tetapi rapuh secara identitas.
Normalisasi gaya hidup yang merusak budaya bukanlah takdir, melainkan hasil dari pilihan sosial.
Melalui refleksi dan keberanian untuk bersikap kritis, masyarakat Makassar memiliki kesempatan untuk memilih dan menegosiasikan modernitas tanpa kehilangan jati dirinya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Asis-Nojeng-26052026.jpg)