Opini
Normalisasi Gaya Hidup Modern dan Erosi Budaya Makassar
Perubahan gaya hidup dalam masyarakat modern sering kali dipahami sebagai konsekuensi logis dari globalisasi.
Budaya lokal sering diajarkan secara deskriptif, bukan reflektif.
Akibatnya, generasi muda mengenal budaya sebagai pengetahuan, bukan sebagai pedoman hidup.
Ulrich Beck menyebut kondisi ini sebagai risk society, ketika masyarakat menghadapi risiko kehilangan identitas akibat modernisasi yang tidak terkendali.
Penerimaan pasif terhadap gaya hidup yang merusak tatanan budaya Makassar bukan berarti masyarakat sepenuhnya setuju, melainkan karena absennya ruang resistensi.
Kritik terhadap gaya hidup modern sering dicap sebagai sikap kolot atau anti kemajuan.
Padahal, seperti ditegaskan oleh Jurgen Habermas, modernitas seharusnya bersifat reflektif, bukan destruktif.
Kemajuan tanpa refleksi etis hanya akan melahirkan krisis makna.
Budaya Makassar sejatinya tidak anti perubahan.
Sejarah menunjukkan kemampuannya beradaptasi dengan berbagai pengaruh luar.
Namun adaptasi berbeda dengan penyerahan diri.
Adaptasi menuntut seleksi nilai, sementara normalisasi yang terjadi hari ini justru menghapus batas tersebut.
Ketika segala sesuatu diterima atas nama kebebasan dan modernitas, budaya kehilangan fungsinya sebagai penuntun moral.
Pada perubahan kebudayaan, Zygmunt Bauman melalui konsep liquid modernity menambahkan bahwa gaya hidup modern bersifat cair, cepat berubah, dan tidak memiliki keterikatan jangka panjang.
Individu didorong untuk terus menyesuaikan diri dengan tren terbaru.
Akibatnya, komitmen terhadap nilai, tradisi, dan komunitas menjadi rapuh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Asis-Nojeng-26052026.jpg)