Opini
Cara Kita Membicarakan Hutan Melalui Bahasa
Dalam konteks lingkungan, pilihan kata yang digunakan masyarakat turut menentukan cara manusia mempersepsikan alam
Media, pemerintah, dan perusahaan memiliki peran besar dalam membentuk narasi tentang lingkungan. Sebaliknya, penggunaan bahasa yang lebih empatik dan ekologis dapat membangun kesadaran bahwa hutan adalah bagian penting dari kehidupan bersama.
Bahasa yang berpihak pada lingkungan dapat menghadirkan kedekatan emosional antara manusia dan alam. Ungkapan seperti “merawat hutan”, “menjaga ruang hidup”, atau “melindungi warisan ekologis” mengandung nilai tanggung jawab moral yang lebih kuat dibanding istilah teknokratis yang cenderung berjarak. Dengan demikian, bahasa dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kepedulian ekologis dalam kehidupan sehari-hari.
Bahasa lokal menyimpan banyak pengetahuan ekologis yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam banyak bahasa daerah di Indonesia, terdapat kosakata khusus yang berkaitan dengan hutan, sungai, musim, tumbuhan, dan berbagai fenomena alam lainnya. Kekayaan kosakata ini menunjukkan kedekatan masyarakat dengan lingkungan tempat mereka hidup.
Ahli linguistik dan antropologi Michael Halliday pernah menekankan bahwa persoalan ekologis tidak bisa dilepaskan dari cara manusia menggunakan bahasa. Menurutnya, pola bahasa tertentu dapat mendorong budaya konsumtif dan eksploitasi terhadap alam, sedangkan bahasa yang lebih ekologis dapat membantu membangun kesadaran kolektif tentang keberlanjutan.
Masyarakat adat, misalnya, memiliki istilah dan aturan tertentu untuk membedakan kawasan hutan yang boleh dimanfaatkan dan kawasan yang harus dilindungi. Pengetahuan tersebut tidak selalu diwariskan melalui teks tertulis, melainkan melalui cerita rakyat, petuah adat, dan tuturan sehari-hari. Bahasa menjadi medium penting dalam menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Karena itu, hilangnya bahasa lokal sering kali berjalan beriringan dengan hilangnya pengetahuan ekologis. Ketika generasi muda tidak lagi memahami bahasa daerahnya, banyak nilai dan kearifan lingkungan ikut memudar. Padahal, di tengah krisis iklim dan kerusakan hutan saat ini, pengetahuan lokal dapat menjadi sumber pembelajaran penting mengenai cara hidup yang lebih selaras dengan alam.
Melestarikan bahasa lokal bukan hanya upaya menjaga identitas budaya, tetapi juga bagian dari upaya mempertahankan kesadaran ekologis masyarakat. Bahasa daerah menyimpan cara pandang yang melihat alam bukan sebagai objek semata, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang harus dihormati.
Upaya menjaga lingkungan tidak cukup dilakukan melalui kebijakan dan teknologi semata. Gerakan lingkungan juga membutuhkan bahasa yang mampu menyentuh kesadaran publik. Kampanye ekologis akan lebih efektif apabila menggunakan bahasa yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan.
Sastra, opini media, pendidikan, hingga media sosial memiliki peran penting dalam membangun narasi ekologis. Melalui tulisan, puisi, film, maupun kampanye digital, masyarakat dapat diajak memahami bahwa kerusakan lingkungan bukan persoalan yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Bahasa memiliki kemampuan untuk membangkitkan empati, menghadirkan rasa kehilangan, sekaligus menumbuhkan harapan.
Pemikir pendidikan kritis Paulo Freire menyatakan bahwa bahasa dan pendidikan dapat menjadi alat pembebasan sosial. Dalam konteks lingkungan, bahasa dapat dipakai untuk membangun kesadaran kritis masyarakat terhadap berbagai bentuk kerusakan ekologis yang selama ini dianggap biasa.
Dalam konteks ini, penulis, jurnalis, akademisi, dan pegiat media memiliki tanggung jawab moral dalam memilih diksi ketika membicarakan lingkungan. Cara sebuah peristiwa ekologis diberitakan akan memengaruhi cara publik memahaminya. Karena itu, penggunaan bahasa yang lebih reflektif dan berpihak pada keberlanjutan menjadi sangat penting.
Bahasa seharusnya tidak hanya menjadi alat penyampaian informasi, tetapi juga sarana membangun kesadaran kolektif untuk merawat bumi. Melalui bahasa yang tepat, masyarakat dapat diajak melihat bahwa menjaga hutan bukan sekadar agenda lingkungan, melainkan kebutuhan bersama demi masa depan kehidupan.
Krisis lingkungan yang terjadi hari ini menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan alam semakin menjauh. Hutan sering dipandang hanya sebagai sumber keuntungan ekonomi,
sementara nilai ekologisnya perlahan diabaikan. Dalam situasi seperti ini, bahasa memiliki peran penting untuk membangun kembali kesadaran manusia terhadap lingkungan.
Bahasa seharusnya menjadi alat untuk merawat bumi, bukan sekadar memperkuat logika eksploitasi. Cara manusia berbicara tentang hutan akan memengaruhi cara manusia memperlakukannya. Ketika alam terus dipahami hanya dalam bahasa pembangunan dan produksi, kerusakan ekologis akan semakin mudah dianggap wajar.
Karena itu, menjaga hutan tidak hanya berarti melindungi pohon dan ekosistem, tetapi juga menjaga cara berpikir dan cara bertutur manusia tentang alam. Kesadaran ekologis pada akhirnya dimulai dari bahasa: dari bagaimana manusia menamai, memahami, dan memaknai bumi sebagai ruang hidup bersama.
| UNM Loloskan 14 Tim PKM 2026, Masuk Deretan Kampus Terbaik Nasional |
|
|---|
| Sosok Yasdin Dosen UNM Ketua Baru Pemuda ICMI Makassar |
|
|---|
| Gacor Dulu Juara Pimnas 2019, Kini Ade Antar Tim Bimbingan Lolos Pendanaan PKM |
|
|---|
| Bikin Bangga, 5 Tim FBS UNM Tembus Pendanaan PKM Kemendiktisaintek 2026 |
|
|---|
| 336 Mahasiswa Psikologi UNM Angkatan 2025 Tampil Beda dengan Kreativitas Multibahasa dan Seni |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260525-Deni-unm.jpg)