Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Sijagaiki na Pada Salama

Ironis, karena di saat angka itu mengingatkan tentang merdeka, banyak rakyat justru merasa makin tidak merdeka dari himpitan hidup.

Tayang:
TRIBUN TIMUR/ist
OPINI - Tutik Sutiawati Pendidik dan Penggiat Literasi Sejarah “Kassikebo” 

Kecemburuan sosial, kesulitan ekonomi, dan kebijakan yang kadang terasa jauh dari denyut rakyat bisa melahirkan kemarahan yang salah arah.

Orang biasa seperti kita ini bisa apa?

Pertanyaan itu sering muncul.

Namun sesungguhnya masih banyak yang bisa dilakukan.

Selain masalah keamanan, Makassar juga sedan menghadapi “perang” yang lain.

Perang melawan sampah dan banjir.

Selama ini kita terbiasa membuang sampah lalu merasa urusan selesai.

Padahal sampah itu tidak benar-benar hilang.

Ia hanya pindah ke TPA Tamangapa Antang dan menunggu waktunya kembali ke kita.

Ketika sampah basah dan sampah kering bercampur, terbentuk gas metana yang merusak kualitas udara.

Itulah penyebabnya mengapa kota kita terasa sangat panas di siang hari.

Sampah basah seperti sisa makanan dan sampah kebun yang tidak tercampur dengan sampah kering sebenarnya bisa jadi kompos, maggot, bahkan pakan ternak.

Sampah basah ini jika tidak terkelola, ketika terguyur air hujan, air lindi dari timbunan sampah berpotensi meresap ke tanah.

Kita kira sampah sudah pergi, padahal ia hanya sedang antre untuk kembali melalui air yang kita konsumsi tiap hari.

Sementara sampah kering seperti plastik, kaca, logam, dan kardus dapat didaur ulang menjadi barang bernilai ekonomi.

Karena itu gerakan memilah sampah sejak dari rumah sangat perlu diupayakan oleh Pemerintah Kota Makassar karena ini bukan sekedar urusan kebersihan, tetapi soal masa depan kota.

Makassar harus bangkit.

Di tengah keadaan ekonomi yang tidak sehat, ketika kebutuhan hidup terus naik dan kesejahteraaan terasa jauh, kita perlu kembali pada nilai lama yang diwariskan leluhur.

Sijagaiki na pada salama.

Rakyat jaga rakyat.

Bertahan hidup hari ini saja sudah perjuangan besar.

Dari pagi ke malam, dan dari malam ke pagi, kebutuhan benar-benar tidak selesai.

Tetapi jangan sampai keadaan membuat kita kehilangan kemanusiaan.

Apa yang bisa kita lakukan di level individu?

Belanjalah di warung tetangga.

Pergilah ke pasar tradisional.

Jajan di UMKM.

Beli di toko kelontong dekat rumah.

Karena belanja kepada mereka bukan sekadar transaksi ekonomi.

Itu adalah cara menjaga sesama warga agar tetap punya harapan hidup.

Kalau membeli sayur jangan terlalu keras menawar.

Pedagang kecil itu jualan tidak untuk memperkaya diri.

Mereka berdagang agar dapurnya tetap hidup dan anaknya bisa sekolah.

Sedikit tidak masalah.

Yang penting uang terus berputar diantara rakyat harapan itu tetap ada.

Seperti pepatah Bugis yang kita kenal: mali siparape, rebba sipatokkong, malilu sipakainge, sipatuo sipatokkong.

Jika hanyut saling menolong, jika tumbang saling menegakkan, jika lupa saling mengingatkan, seia sekata saling membantu dan saling memajukan.

Karena pada akhirnya kota ini bukan hanya milik pemerintah, bukan pula milik orang kaya, atau pemilik modal.

Makassar adalah rumah bersama.

Dan rumah hanya bisa bertahan bila penghuninya saling menjaga.

Sijagaiki na pada salama.

Karena kadang yang paling mampu menyelamatkan rakyat adalah rakyat itu sendiri.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved