Opini
Sijagaiki na Pada Salama
Ironis, karena di saat angka itu mengingatkan tentang merdeka, banyak rakyat justru merasa makin tidak merdeka dari himpitan hidup.
Yang lebih mengkhatirkan, mereka membawa senjata api.
Sudah separah inikah Makassar.
Jalangkote yang biasanya nikmat disantap sambil cengke-cengke di trotoar di bawah pohon rindang kini terasa berbeda.
Bukan karena rasanya berubah, tetapi rasa aman yang berkurang.
Orang takut tiba-tiba busur melayang.
Anak-anak yang pulang mengaji di malam hari membuat orangtua was-was, khawatir motor dirampas atau mereka menjadi sasaran kekerasan.
Lalu siapa sebenarnya mereka?
Apakah mereka kelompok terorganisir?
Ataukah ini gejala sosial yang selama ini gagal kita baca.
Dalam ilmu sosial ada istilah helplessness, keadaan ketika masyarakat merasa bingung, kehilangan arah, dan tidak tahu harus melangkah kemana untuk hidup layak.
Pekerjaan susah dicari, Anak-anak putus sekolah.
Ruang usaha terasa sempit.
Harapan makin tipis.
Ketika energi keputusasaan bertemu dengan lingkungan yang salah, lahirlah ledakan sosial.
Bukan untuk membenarkan kekerasan, tetapi orang perlu jujur membaca akar persoalan.
| Menanti Nahkoda Baru Golkar Sulsel: Antara Tradisi Kekuasaan dan Kebutuhan Regenerasi |
|
|---|
| National Governance Awards 2026: Antara Meritokrasi Kinerja dan Ilusi Inovasi Tata Kelola di Sulsel |
|
|---|
| Hadis Haji: Dari Ritual ke Sosial, dari Simbol Kehormatan Menuju Simbol Perubahan |
|
|---|
| Wajah Demokrasi Kita, Rengkahan atau Tantangan Pemilu Mendatang |
|
|---|
| Hari Keanekaragaman Hayati International |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-01-06-Tutik-Sutiawati.jpg)