Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Hari Keanekaragaman Hayati International

Intinya berupa aksi kecil di daerah bisa berdampak besar buat keanekaragaman hayati dunia. 

Tayang:
Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/ist
OPINI - Djusdil Akrim Praktisi Industri dan Pemerhati Lingkungan 

Oleh : Djusdil Akrim 

Praktisi Industri dan Pemerhati Lingkungan

TRIBUN-TIMUR.COM - International Day for Biological Diversity atau Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, sebagai penyelanggara Convention on Biological Diversity-CBD PBB.

Dengan tema sentral: Acting locally for global impact. Mengajak aksi lokal di tingkat komunitas, sekolah, kota, dan organisasi untuk mendukung target global Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework 2030.

Intinya berupa aksi kecil di daerah bisa berdampak besar buat keanekaragaman hayati dunia. 

Bumi Pertiwi yang beririsan sepanjang garis khatulistiwa. Dengan paparan sinar mata hari yang melimpah sepanjang tahun.

Menjadikan Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan megabiodiversitas peringkat ke 2 setelah Brasil.

Dengan suhu rata-rata 26-28°C dan kelembapan tinggi tanpa musim dingin. Organisme tidak perlu “libur” berhibernasi untuk tidur panjang.

Siklus hidup, kawin, berbuah jalan terus sehingga tingkat reproduksi dan spesiasi tinggi.

Sebagai negeri zamrud khatulistiwa. Intensitas matahari konsisten 12 jam/hari. Fotosintesis menjadi maksimal.

Hasilnya berupa biomassa yang besar-besar seperti pohon tinggi, kanopi berlapis, liana, epifit. Sekedar contoh satu hektar hutan Kalimantan bisa punya 200 lebih spesies pohon.

Ini menjadi habitat dan makanan buat fauna lain. Dengan curah hujan tinggi 2000-4000 mm/tahun membuat hutan hujan tropis tumbuh subur.

Hutan hujan tropis hanya menempati 6 persen daratan bumi tapi menyimpan 50 % spesies dunia.

Dalam rangka peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional menyadarkan kita bahwa Indonesia memiliki segalanya yang tidak dimiliki bangsa lain.

Andai kita bergerak, maju bersama, membangun secara konsisten. Dari Era Bung Karno, Masa Pak Harto, Terus Eyang Habibie dan seterusnya selama periode Reformasi.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved