Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Hadis Haji: Dari Ritual ke Sosial, dari Simbol Kehormatan Menuju Simbol Perubahan

Haji itu bukan sekadar perjalanan ritual, melainkan proyek sosial yang konkret—latihan intensif untuk membentuk manusia yang berguna bagi sesamanya. 

Tayang:
Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/ist
OPINI - Dr. Amrullah Harun, S.Th.I., M.Hum Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Palopo 

Oleh: Dr. Amrullah Harun, S.Th.I., M.Hum.

Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Palopo

TRIBUN-TIMUR.COM - Di tengah riuhnya musim haji setiap tahun, kita sering menyaksikan pemandangan yang akan selalu berulang.

Orang berangkat dengan haru, pulang dengan gelar “haji” di depan nama, lalu kemudian kehidupan berjalan seperti biasa, dengan kata lain kembali ke mode awal sebelum berangkat. 

Gelar itu hanya menjadi simbol kehormatan, bahkan bisa jadi hanya seperti “sertifikat kesalehan”. Padahal, jika kita telusuri hadis Nabi, haji menyimpan makna yang jauh lebih dalam dan bisa jadi agak “radikal” bagi sebagian masyarakat. 

Sebelum saya lanjutkan, saya disclaimer terlebih dahulu, bahwa tulisan ini adalah nasihat bagi diri sendiri dan masyarakat yang ingin berubah menjadi lebih baik sepulang berhaji.

Haji itu bukan sekadar perjalanan ritual, melainkan proyek sosial yang konkret—latihan intensif untuk membentuk manusia yang berguna bagi sesamanya. 

Hadis tentang haji yang menghapus dosa sering dipahami secara personal: seseorang kembali “bersih” seperti bayi. Namun, kebersihan itu seharusnya berdampak sosial.

Bayi tidak punya dendam, tidak mengenal tipu daya, dan tidak hidup dalam kesombongan.

Maka “kembali seperti bayi” berarti menjadi manusia yang tidak merugikan orang lain—tidak menipu, tidak menyakiti, dan tidak memanfaatkan agama untuk kepentingan pribadi. 

Dalam arti ini, orang-orang yang telah pulang dari haji semestinya menjadi individu yang aman bagi lingkungannya.

Jika sepulang haji seseorang masih menyebarkan kebencian, hoaks, fitnah atau mempermainkan kepercayaan publik, maka yang berubah hanyalah status, bukan kesadaran.

Larangan berkata kotor dan berbuat fasik selama haji juga sering dianggap aturan sementara di tanah suci.

Padahal, itu sangat bisa --untuk tidak mengatakan harus-- dibaca/dipahami sebagai simulasi kehidupan sosial yang ideal. 

Coba bayangkan masyarakat di mana setiap orang menahan diri dari ucapan kasar, tindakan curang, dan perilaku eksploitatif. Itulah miniatur dunia yang tenang yang ingin dibangun melalui haji.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved