Opini
Sijagaiki na Pada Salama
Ironis, karena di saat angka itu mengingatkan tentang merdeka, banyak rakyat justru merasa makin tidak merdeka dari himpitan hidup.
Oleh: Tutik Sutiawati
Pendidik dan Penggiat Literasi Sejarah “Kassikebo”
TRIBUN-TIMUR.COM - Ketegangan dunia yang terjadi akhir-akhir ini, termasuk konflik yang melibatkan negara-negara besar dan terganggunya jalur perdagangan internasional di selat Hormuz, perlahan ikut mengguncang ekonomi kita.
Nilai tukar rupiah melemah membuat dollar seperti berjalan tanpa rem.
Dari Rp 17.737 menuju Rp 17. 845.
Angkanya bahkan mengingatkan kita pada tanggal kemerdekaan, 17- 8- 45.
Ironis, karena di saat angka itu mengingatkan tentang merdeka, banyak rakyat justru merasa makin tidak merdeka dari himpitan hidup.
Ketika Dollar melambung, harga kebutuhan pokok ikut naik.
Dan rakyat kecil selalu menjadi yang pertama merasakan dampaknya.
Langganan Bassang pagi mulai mengurangi isi cup-nya.
Ubi dan pisang goreng yang dulu menumpuk manis di piring, sekarang berkurang dua potong karena harga tepung dan minyak goreng naik.
Coto langganan pun ikut menyesuaikan nasib.
Irisan daging berkurang, dan ketupat pun makin mungil.
Dulu ketupat cukup membuat perut damai, sekarang harus tiga.
Belum lagi harga obat yang ikut naik, membuat kepala dan dompet sama-sama pening.
Padahal sesungguhnya Makassar bukan kota yang miskin potensi.
Data industri kreatif menunjukkan ada sekira 37 ribu lebih pelaku ekonomi kreatif di kota ini.
Tiga subsektor terbesar berada pada kuliner, seni pertunjukan, dan musik.
Artinya Makassar punya kekuatan di rasa, ekspresi, dan suara.
Kota ini kaya talenta, kaya kreativitas.
Kaya semangat hidup.
Makassar tidak kekurangan anak muda pintar.
Tidak kekurangan orang kreatif.
Yang kurang hanyalah ruang, pengetahuan, dan ekosistem yang saling menguatkan.
Sayangnya akhir-akhir ini, potensi itu terasa pincang.
Nama Makassar yang dulu dikenal ramah, dan jadi ikon kota makan enak perlahan beralih jadi kota begal, kota geng motor, dan kota sejuta tukang parkir seolah lebih cepat menyebar dibanding prestasi warganya.
Sampah belum tertangani baik, banjir datang hampir tiap musim hujan, dan yang paling membuat masyarakat resah adalah kekerasan jalanan.
Masalah geng motor yang sudah berbulan-bulan belum tertangani baik.
Korban geng motor ini awalnya pengguna jalan, lalu meningkat ke warga yang lagi nongkrong di warkop.
Kini bahkan orang di dalam rumah pun ikut terancam.
Petugas Patroli juga menjadi korban.
Yang lebih mengkhatirkan, mereka membawa senjata api.
Sudah separah inikah Makassar.
Jalangkote yang biasanya nikmat disantap sambil cengke-cengke di trotoar di bawah pohon rindang kini terasa berbeda.
Bukan karena rasanya berubah, tetapi rasa aman yang berkurang.
Orang takut tiba-tiba busur melayang.
Anak-anak yang pulang mengaji di malam hari membuat orangtua was-was, khawatir motor dirampas atau mereka menjadi sasaran kekerasan.
Lalu siapa sebenarnya mereka?
Apakah mereka kelompok terorganisir?
Ataukah ini gejala sosial yang selama ini gagal kita baca.
Dalam ilmu sosial ada istilah helplessness, keadaan ketika masyarakat merasa bingung, kehilangan arah, dan tidak tahu harus melangkah kemana untuk hidup layak.
Pekerjaan susah dicari, Anak-anak putus sekolah.
Ruang usaha terasa sempit.
Harapan makin tipis.
Ketika energi keputusasaan bertemu dengan lingkungan yang salah, lahirlah ledakan sosial.
Bukan untuk membenarkan kekerasan, tetapi orang perlu jujur membaca akar persoalan.
Kecemburuan sosial, kesulitan ekonomi, dan kebijakan yang kadang terasa jauh dari denyut rakyat bisa melahirkan kemarahan yang salah arah.
Orang biasa seperti kita ini bisa apa?
Pertanyaan itu sering muncul.
Namun sesungguhnya masih banyak yang bisa dilakukan.
Selain masalah keamanan, Makassar juga sedan menghadapi “perang” yang lain.
Perang melawan sampah dan banjir.
Selama ini kita terbiasa membuang sampah lalu merasa urusan selesai.
Padahal sampah itu tidak benar-benar hilang.
Ia hanya pindah ke TPA Tamangapa Antang dan menunggu waktunya kembali ke kita.
Ketika sampah basah dan sampah kering bercampur, terbentuk gas metana yang merusak kualitas udara.
Itulah penyebabnya mengapa kota kita terasa sangat panas di siang hari.
Sampah basah seperti sisa makanan dan sampah kebun yang tidak tercampur dengan sampah kering sebenarnya bisa jadi kompos, maggot, bahkan pakan ternak.
Sampah basah ini jika tidak terkelola, ketika terguyur air hujan, air lindi dari timbunan sampah berpotensi meresap ke tanah.
Kita kira sampah sudah pergi, padahal ia hanya sedang antre untuk kembali melalui air yang kita konsumsi tiap hari.
Sementara sampah kering seperti plastik, kaca, logam, dan kardus dapat didaur ulang menjadi barang bernilai ekonomi.
Karena itu gerakan memilah sampah sejak dari rumah sangat perlu diupayakan oleh Pemerintah Kota Makassar karena ini bukan sekedar urusan kebersihan, tetapi soal masa depan kota.
Makassar harus bangkit.
Di tengah keadaan ekonomi yang tidak sehat, ketika kebutuhan hidup terus naik dan kesejahteraaan terasa jauh, kita perlu kembali pada nilai lama yang diwariskan leluhur.
Sijagaiki na pada salama.
Rakyat jaga rakyat.
Bertahan hidup hari ini saja sudah perjuangan besar.
Dari pagi ke malam, dan dari malam ke pagi, kebutuhan benar-benar tidak selesai.
Tetapi jangan sampai keadaan membuat kita kehilangan kemanusiaan.
Apa yang bisa kita lakukan di level individu?
Belanjalah di warung tetangga.
Pergilah ke pasar tradisional.
Jajan di UMKM.
Beli di toko kelontong dekat rumah.
Karena belanja kepada mereka bukan sekadar transaksi ekonomi.
Itu adalah cara menjaga sesama warga agar tetap punya harapan hidup.
Kalau membeli sayur jangan terlalu keras menawar.
Pedagang kecil itu jualan tidak untuk memperkaya diri.
Mereka berdagang agar dapurnya tetap hidup dan anaknya bisa sekolah.
Sedikit tidak masalah.
Yang penting uang terus berputar diantara rakyat harapan itu tetap ada.
Seperti pepatah Bugis yang kita kenal: mali siparape, rebba sipatokkong, malilu sipakainge, sipatuo sipatokkong.
Jika hanyut saling menolong, jika tumbang saling menegakkan, jika lupa saling mengingatkan, seia sekata saling membantu dan saling memajukan.
Karena pada akhirnya kota ini bukan hanya milik pemerintah, bukan pula milik orang kaya, atau pemilik modal.
Makassar adalah rumah bersama.
Dan rumah hanya bisa bertahan bila penghuninya saling menjaga.
Sijagaiki na pada salama.
Karena kadang yang paling mampu menyelamatkan rakyat adalah rakyat itu sendiri.(*)
| Menanti Nahkoda Baru Golkar Sulsel: Antara Tradisi Kekuasaan dan Kebutuhan Regenerasi |
|
|---|
| National Governance Awards 2026: Antara Meritokrasi Kinerja dan Ilusi Inovasi Tata Kelola di Sulsel |
|
|---|
| Hadis Haji: Dari Ritual ke Sosial, dari Simbol Kehormatan Menuju Simbol Perubahan |
|
|---|
| Wajah Demokrasi Kita, Rengkahan atau Tantangan Pemilu Mendatang |
|
|---|
| Hari Keanekaragaman Hayati International |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-01-06-Tutik-Sutiawati.jpg)