Opini
Sijagaiki na Pada Salama
Ironis, karena di saat angka itu mengingatkan tentang merdeka, banyak rakyat justru merasa makin tidak merdeka dari himpitan hidup.
Data industri kreatif menunjukkan ada sekira 37 ribu lebih pelaku ekonomi kreatif di kota ini.
Tiga subsektor terbesar berada pada kuliner, seni pertunjukan, dan musik.
Artinya Makassar punya kekuatan di rasa, ekspresi, dan suara.
Kota ini kaya talenta, kaya kreativitas.
Kaya semangat hidup.
Makassar tidak kekurangan anak muda pintar.
Tidak kekurangan orang kreatif.
Yang kurang hanyalah ruang, pengetahuan, dan ekosistem yang saling menguatkan.
Sayangnya akhir-akhir ini, potensi itu terasa pincang.
Nama Makassar yang dulu dikenal ramah, dan jadi ikon kota makan enak perlahan beralih jadi kota begal, kota geng motor, dan kota sejuta tukang parkir seolah lebih cepat menyebar dibanding prestasi warganya.
Sampah belum tertangani baik, banjir datang hampir tiap musim hujan, dan yang paling membuat masyarakat resah adalah kekerasan jalanan.
Masalah geng motor yang sudah berbulan-bulan belum tertangani baik.
Korban geng motor ini awalnya pengguna jalan, lalu meningkat ke warga yang lagi nongkrong di warkop.
Kini bahkan orang di dalam rumah pun ikut terancam.
Petugas Patroli juga menjadi korban.
| Menanti Nahkoda Baru Golkar Sulsel: Antara Tradisi Kekuasaan dan Kebutuhan Regenerasi |
|
|---|
| National Governance Awards 2026: Antara Meritokrasi Kinerja dan Ilusi Inovasi Tata Kelola di Sulsel |
|
|---|
| Hadis Haji: Dari Ritual ke Sosial, dari Simbol Kehormatan Menuju Simbol Perubahan |
|
|---|
| Wajah Demokrasi Kita, Rengkahan atau Tantangan Pemilu Mendatang |
|
|---|
| Hari Keanekaragaman Hayati International |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-01-06-Tutik-Sutiawati.jpg)