Salam Tribun Timur
Pajak Tanda Percaya
Pajak sering disebut sebagai napas negara. Dari sanalah jalan dibangun, sekolah dibiayai, rumah sakit dijalankan, dan birokrasi digerakkan.
Tetapi jelas alarm kuning.
Dan alarm kuning tidak boleh dibaca sambil lalu.
Sebab ekonomi tidak hidup hanya dari angka pertumbuhan.
Ia hidup dari aktivitas riil: daya beli, konsumsi, investasi, perdagangan, dan kepercayaan pelaku usaha.
Ketika negara bicara pertumbuhan positif, tetapi masyarakat masih mengeluhkan harga energi naik, ongkos logistik membengkak, dan tekanan biaya hidup terasa, maka ada jarak yang harus dijelaskan.
Memang ada kabar baik.
PPh tumbuh ditopang sektor pendidikan dan kesehatan.
PPN ikut terdorong dari proyek infrastruktur dan pertambangan.
PBB juga bergerak positif.
Tetapi kita juga melihat ketergantungan yang cukup besar pada sektor perdagangan dan pertambangan.
Pertanyaannya: apakah basis pajak Sulsel sudah cukup luas?
Atau jangan-jangan masih terlalu bertumpu pada sektor tertentu?
Di sinilah kritik perlu disampaikan dengan jernih.
Optimalisasi pajak tidak boleh hanya berorientasi mengejar target angka.
Jangan sampai fiskus terlalu agresif mengejar penerimaan justru di saat pelaku usaha sedang berhitung ulang akibat tekanan ekonomi global.
Negara tidak boleh terlihat seperti hanya datang ketika menagih.
Pajak membutuhkan legitimasi sosial.
Dan legitimasi itu lahir dari pelayanan yang terasa, birokrasi yang memudahkan, serta kepastian hukum bagi wajib pajak.
Wassalam.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260311-Cara-Lapor-SPT-Tahunan-Wajib-Pajak-Orang-Pribadi-Karyawan-di-Coretax-DJP.jpg)