Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Semut Pun Membenci Kedustaan

Makna filosofis dari pepatah tersebut bahwa orang yang memegang lempu’ (kejujuran) akan memperoleh kehormatan dan kebaikan hidup.

Tayang:
Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/Ist
OPINI - Rukman Abdul Rahman Said Dosen/Ketua LP2M UIN Palopo 

Peristiwa itu membuatnya sangat terkejut dan sedih. Ketika dia menceritakan kejadian tersebut kepada gurunya, Ibnu Taimiyah, sang guru berkata: “Subhanallah (Maha Suci Allah) yang telah mengajarkan kepada semut tentang buruknya dusta dan hukuman bagi pendusta.”

Kisah ini mungkin tampak sederhana, tetapi ia memantulkan realitas kehidupan manusia hari ini. Betapa banyak relasi sosial hancur karena kebohongan.

Betapa banyak kepercayaan runtuh karena dusta yang dianggap sepele. Dalam dunia politik, ekonomi, pendidikan, bahkan kehidupan rumah tangga, kejujuran menjadi barang yang semakin mahal.

Padahal Islam menempatkan kejujuran sebagai fondasi utama akhlak seorang mukmin. Rasulullah ﷺ dikenal dengan gelar al-Amīn jauh sebelum diangkat menjadi nabi. Gelar itu bukan sekadar penghormatan sosial, melainkan cermin integritas moral yang melekat pada diri beliau.

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantar ke surga.

Seseorang terus berlaku jujur hingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta membawa kepada dosa (maksiat), dan kemaksiatan mengantar ke neraka.

Seseorang terus berlaku dusta hingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (Muttafaq ‘Alaih)

Hadis ini menunjukkan bahwa kejujuran bukan hanya perilaku sesaat, melainkan karakter yang dibangun terus-menerus. Sebaliknya, kebohongan yang terus diulang akan membentuk watak dan akhirnya menghancurkan pelakunya sendiri.

Yang menarik, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa seorang mukmin bisa saja tergelincir dalam berbagai dosa, tetapi satu-satunya dosa yang secara tegas tidak ditolerir oleh Rasulullah ﷺ adalah sifat dusta yang melekat pada pribadi seorang mukmin sejati.

Ini menunjukkan bahwa kebohongan bukan sekadar kesalahan lisan, tetapi juga cerminan rusaknya hati dan hilangnya rasa takut kepada Allah. Bahkan dikatakan bahwa dusta adalah induk dari segala dosa.

Hari ini kita hidup di era ketika kebohongan dapat menyebar hanya dalam hitungan detik melalui media sosial.

Fitnah, hoaks, manipulasi data, dan pencitraan palsu diproduksi secara massif demi kepentingan tertentu. Ironisnya, sebagian orang justru merasa bangga ketika mampu menipu orang lain dengan rapi.

Karena itu, kisah semut yang diceritakan Ibnu al-Qayyim tersebut menjadi tamparan moral bagi manusia modern. Jika makhluk sekecil semut saja memiliki naluri untuk menolak dusta, lalu bagaimana dengan manusia yang dibekali akal, wahyu, dan nilai-nilai agama?

Kejujuran memang tidak selalu menguntungkan secara duniawi dalam jangka pendek. Terkadang orang jujur justru dianggap bodoh, kalah cepat, atau tidak pandai memainkan “bola”. Namun dalam jangka panjang, kejujuran adalah fondasi kepercayaan, sedangkan dusta hanya akan melahirkan keruntuhan.

Masyarakat yang dibangun di atas kebohongan akan kehilangan rasa aman. Sebaliknya, masyarakat yang menjunjung kejujuran akan melahirkan kepercayaan sosial, ketenangan, dan keberkahan hidup.

Dalam falsafah Bugis klasik disebutkan bahwa sifat utama manusia bermartabat: “Lèmpu’, ada tongèng, gèttèng” (Jujur, berkata benar, dan teguh pendirian).

Pada akhirnya, kisah semut itu bukan sekadar cerita tentang serangga. Ia adalah cermin bagi manusia. Bahwa kejujuran adalah fitrah, sedangkan dusta adalah penyimpangan dari kemanusiaan itu sendiri. Wallahu A’lam.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved