Opini
Semut Pun Membenci Kedustaan
Makna filosofis dari pepatah tersebut bahwa orang yang memegang lempu’ (kejujuran) akan memperoleh kehormatan dan kebaikan hidup.
Ketika rombongan semut itu hampir sampai, Ibnu al-Qayyim mengangkat sayap belalang tersebut. Para semut itu pun mencari-cari, namun tidak menemukan apa pun. Akhirnya mereka kembali ke sarang mereka setelah kelelahan.
Tinggallah seekor semut yang terus mencari dengan penuh semangat. Tampaknya itulah semut pertama yang menemukan sayap tersebut.
Lalu Ibnu al-Qayyim mengembalikan sayap itu ke tempat semula. Ketika semut itu melihatnya, ia sangat gembira dan mencoba menariknya, tetapi tetap tidak mampu.
Ia segera berlari menuju teman-temannya. Namun kali ini ia agak lama keluar dari sarang, tampaknya ia berusaha meyakinkan mereka tentang kebenaran informasinya karena kredibilitasnya sudah berkurang akibat kejadian pertama.
Akhirnya keluarlah rombongan yang jumlahnya lebih sedikit dari sebelumnya. Ketika mereka hampir tiba di tempat sayap itu berada, Ibnu al-Qayyim kembali mengangkatnya sebelum mereka tiba. Maka para semut itu tidak menemukan apa pun.
Setelah lelah mencari, mereka pulang dengan perasaan kecewa. Tinggallah seekor semut yang terus mencari seperti orang kebingungan – kemungkinan besar adalah semut yang sama, tokoh utama peristiwa ini.
Kemudian Ibnu al-Qayyim mengembalikan lagi sayap itu ke tempatnya semula. Ketika semut itu melihatnya, ia kembali sangat gembira.
Ia pun bergegas menuju sarang dan kali ini lebih lama lagi dari sebelumnya. Namun kali ini yang keluar bersamanya hanya tujuh ekor semut.
Ketika mereka hampir sampai di tempat sayap itu, Ibnu al-Qayyim kembali mengangkatnya sebelum mereka tiba.
Mereka tidak menemukan apa pun. Tampaknya mereka sangat marah.
Mereka lalu mengepung semut yang pertama seperti gelang yang melingkar, dan menempatkannya di tengah-tengah mereka. Kemudian apa yang terjadi?
Mereka menyerangnya. Mereka mencabik-cabik tubuh semut itu, membelah perutnya, memisahkan kepalanya dari tubuhnya, dan mematahkan kaki-kakinya. (La haula wa la quwwata illa billah).
Setelah mereka selesai melakukan itu, Ibnu al-Qayyim melemparkan sayap belalang tersebut kepada mereka.
Ketika mereka melihatnya, mereka sangat menyesal. Mereka mengelilingi semut malang itu dengan kesedihan yang mendalam, tetapi semuanya sudah terlambat.
Ibnu al-Qayyim berkata: “Aku sangat terkejut dan sedih melihat peristiwa itu.”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-05-19-Rukman-Abdul-Rahman-Said-DosenKetua-LP2M-UIN-Palopo.jpg)