Opini
Bapenda Sebagai Kunci Kapabilitas Kota Makassar
Kota Makassar memiliki potensi yang besar karena telah memiliki inovasi berupa digitalisasi sistem pendapatan daerah dengan hadirnya Pakinta.
Untuk memahami mengapa transformasi digital Makassar memiliki signifikansi yang melampaui urusan teknis dan perpajakan semata, penting untuk membacanya dalam kerangka strategi pembangunan ekonomi yang lebih luas.
Ricardo Hausmann, Guru Besar Ekonomi di Harvard Kennedy School yang dikenal melalui Economic Complexity Index, menawarkan perspektif yang sangat relevan untuk konteks ini.
Hausmann menegaskan bahwa dalam strategi pertumbuhan ekonomi, pertanyaan terpenting bukan sektor mana yang memberikan nilai tambah tinggi, apakah manufaktur yang lebih unggul dari jasa, atau apakah hilirisasi yang lebih baik dari komoditas.
Yang sesungguhnya menentukan adalah, apakah suatu negara mampu membangun kapabilitas yang terus berkembang dan saling terhubung satu sama lain?
Ia mencontohkan bagaimana Jepang memulai industrialisasinya dari tekstil, sektor yang tampak sederhana.
Namun dari industri tekstil itulah tumbuh kapabilitas rekayasa mesin yang kemudian melahirkan Toyota.
Kisah serupa datang dari negara-negara Nordik seperti Finlandia dan Swedia yang industrinya dulu bertumpu pada hutan, kayu, pulp, dan kertas.
Dari industri yang tampak konvensional itu, tumbuh kemampuan engineering, manufaktur, kimia, dan riset.
Nokia, yang dulu adalah raksasa telekomunikasi global, bahkan berawal dari industri pulp dan kertas, sebelum akhirnya memimpin revolusi teknologi komunikasi dunia.
Hausmann juga menepis dikotomi yang selama ini lazim antara manufaktur dan jasa.
Sektor manufaktur dengan produktivitas tertinggi justru adalah yang paling intensif terhadap layanan jasa, sebuah fenomena yang ia sebut sebagai "servicification".
Artinya, batas yang dulu tegas antara manufaktur dan jasa, kini menjadi semakin kabur.
Dari fenomena itu, dapat disimpulkan bahwa yang penting bukan kategorisasinya, melainkan kompleksitas kapabilitas yang dikandungnya.
Dalam konteks Kota Makassar, kerangka Hausmann ini memberi pemaknaan baru terhadap upaya digitalisasi pemerintahan.
Lontara+ dan Pakinta bukan sekadar alat pemungut pajak yang lebih efisien saja, tetapi sudah menjadi sebuah proses pembangunan kapabilitas institusional, dimana kemampuan Kota mengelola data, mengintegrasikan layanan lintas sektor, membangun kepercayaan publik terhadap sistem digital, dan mengoperasikan ekosistem governance yang kompleks secara real-time, adalah sebuah keniscayaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20250823-Arief-Wicaksono-Dosen-Fisip.jpg)