Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Afifuddin Harisah

Kekerasan Seksual di Pesantren dan Pentingnya Reaktualisasi Kultur Ta'dzim

Budaya santri mencium tangan kiai, menunduk hormat, dan patuh dalam belajar adalah warisan mulia yang melahirkan generasi ulama beradab.

Tayang: | Diperbarui:
Tribun-timur.com/Erlan Saputra
KEKERASAN PEREMPUAN - - LBH Makassar soroti tingginya kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan sepanjang tahun 2025. Hal itu terungkap di Kantor LBH Makassar, Jalan Nikel I No 18 Blok A 22, Balla Parang, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, Rabu (24/12/2025) siang. 

Oleh: Afifuddin Harisah
Ketua FKPP/Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) Sulsel

TRIBUN-TIMUR.COM - Kasus pencabulan yang menimpa puluhan santriwati di Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, Pati, adalah luka berat bagi dunia pesantren Indonesia.

Namun, di tengah duka itu, kita tidak boleh kehilangan akal sehat dan jatuh pada putus asa.

Bukan tradisi pesantren yang salah, melainkan telah terjadi distorsi dalam memahami nilai luhur ta'dzim dan ketaatan.

Budaya santri mencium tangan kiai, menunduk hormat, dan patuh dalam belajar adalah warisan mulia yang melahirkan generasi ulama beradab.

Justru karena kita mencintai pesantren, kita wajib membersihkan penyimpangan yang mengubah hormat menjadi penyembahan, dan kepatutan menjadi kebisuan.

Solusinya bukan membuang budaya, melainkan mereaktualisasi makna ta'dzim agar kembali pada ruh syariat dan melahirkan santri yang santun sekaligus berani.

Ta'dzim Bermartabat, Bukan Kepatuhan Buta

Ta'dzim dalam ajaran pesantren klasik tidak pernah dimaknai sebagai kepatuhan tanpa batas.

Imam al-Ghazali dalam Ihyā' 'Ulūm al-Dīn mengajarkan bahwa seorang murid wajib menghormati guru, tetapi jika guru terang-terangan melanggar syariat, murid berkewajiban menasihati dengan cara yang santun.

Inilah esensi ta'dzim yang sejati, menghormati pribadi guru sekaligus menjaga kebenaran di atas segalanya.

Reaktualisasi makna ini perlu dilakukan dengan mengajarkan kepada santri bahwa ketaatan mutlak hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, sementara ketaatan kepada kiai terikat pada koridor syariat.

Para kiai teladan justru akan membuka ruang dialog, mendorong santri untuk bertanya, dan berani mengakui kekeliruan jika diperlukan.

Dengan cara ini, ta'dzim tidak lagi menjadi alat dominasi, melainkan menjadi perekat relasi yang bermartabat, penuh hormat, dan berkeadilan.

Dari pemahaman ta'dzim yang telah diluruskan, langkah berikutnya adalah membangun keberanian santri dalam kerangka hormat yang sehat.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved