Musda Golkar Sulsel
Musda atau Perpecahan: Konsolidasi Masa Depan Golkar Sulsel
Muhidin secara terbuka menyampaikan pesan Bahlil Musda Sulsel diharapkan berakhir melalui aklamasi
Teori democratic linkage yang dijelaskan oleh Katz dan Mair dalam buku Party Organizations and Party Democracy (1994) menjelaskan bahwa legitimasi partai politik modern tidak hanya dibangun dari elite pusat, tetapi juga dari kemampuan menyerap aspirasi akar rumput. Ketika partai terlalu elitis dan mengabaikan struktur bawah, maka soliditas internal akan mudah rapuh.
Karena itu, pendekatan Muhidin yang berkeliling melakukan safari konsolidasi ke Takalar, Pinrang, hingga Soppeng sebenarnya memperlihatkan bahwa DPD I sedang berusaha membangun legitimasi politik dari bawah. Ini sekaligus memperkuat posisi figur yang memiliki basis dukungan riil di daerah.
Meski demikian, IAS dan Andi Ina tetap merupakan kader terbaik Golkar Sulsel yang memiliki kekuatan dan kontribusi besar bagi partai. IAS kuat dalam pengalaman dan jaringan elite. Andi Ina kuat dalam simbol regenerasi dan kemampuan membangun komunikasi politik baru. Ketiganya adalah aset penting Golkar Sulsel yang seharusnya tidak dipertentangkan secara destruktif.
Soppeng sebagai Simbol dan Appi sebagai Momentum Baru
Pidato Muhidin di Soppeng juga menarik karena menjadikan keberhasilan DPD II Golkar Soppeng sebagai role model konsolidasi partai. Di bawah kepemimpinan Andi Kaswadi Razak, Golkar berhasil mengamankan 11 dari 30 kursi DPRD Soppeng. Angka ini bukan sekadar statistik elektoral, tetapi bukti bahwa Golkar masih bisa menang besar jika soliditas internal terjaga.
Muhidin menyebut Soppeng sebagai “kebun beringin yang rindang”. Istilah ini memiliki makna simbolik yang kuat. Ia ingin menunjukkan bahwa kemenangan politik hanya bisa dicapai jika partai mampu menjaga kerapatan barisan, disiplin organisasi, dan kedekatan dengan masyarakat.
Dalam konteks itu, Golkar Sulsel membutuhkan figur ketua yang tidak hanya kuat di elite, tetapi juga mampu membangun koneksi dengan akar rumput dan pemilih baru. Politik Sulsel saat ini telah berubah. Pemilih muda semakin dominan. Media sosial membentuk persepsi publik secara cepat. Politik patronase lama tidak lagi cukup untuk menjamin kemenangan.
Di sinilah Munafri Arifuddin terlihat memiliki momentum politik yang cukup relevan. Appi hadir dengan citra yang relatif lebih modern, lebih adaptif, dan lebih mudah diterima oleh kelompok pemilih perkotaan serta generasi muda. Selain itu, ia juga relatif memiliki citra publik yang lebih bersih dibanding figur figur politik lama yang sering terjebak dalam konflik masa lalu.
Teori political branding yang dijelaskan Margaret Scammell dalam buku Designer Politics How Elections are Won (1995) menyebutkan bahwa kemenangan partai modern sangat ditentukan oleh kemampuan menghadirkan figur yang dipercaya publik. Partai tidak lagi cukup hanya mengandalkan sejarah besar atau simbol ideologis. Yang menentukan adalah siapa wajah yang mampu mewakili harapan baru masyarakat.
Karena itu, jika Golkar Sulsel ingin kembali merebut kursi Ketua DPRD Sulsel pada Pemilu 2029, maka partai membutuhkan pemimpin yang mampu menghadirkan citra persatuan sekaligus pembaruan. Appi tampak memenuhi kebutuhan itu karena ia memiliki kombinasi antara dukungan akar rumput, kemampuan komunikasi politik modern, dan citra yang relatif bersih di mata publik.
Meski demikian, keberhasilan Golkar Sulsel tidak akan ditentukan oleh satu figur semata. Golkar tetap membutuhkan kebesaran hati seluruh elite termasuk IAS dan Andi Ina untuk menjaga soliditas partai pasca Musda. Sebab ancaman terbesar Golkar hari ini bukan hanya kekalahan elektoral, tetapi potensi perpecahan internal akibat rivalitas elite yang berkepanjangan.
Pada akhirnya, pidato Muhidin Mohamad Said di Soppeng harus dibaca sebagai seruan moral dan politik bahwa Golkar Sulsel tidak boleh lagi menghabiskan energi dalam konflik internal. Musda harus menjadi ruang rekonsiliasi dan konsolidasi, bukan arena saling menjatuhkan. Sebab hanya partai yang solid secara internal yang mampu kembali menjadi kekuatan dominan di Sulawesi Selatan.
Referensi :
Samuel P Huntington. Political Order in Changing Societies. 1968.
Richard Katz dan Peter Mair. Party Organizations and Party Democracy. 1994.
Margaret Scammell. Designer Politics How Elections are Won. 1995.
Keputusan KPU Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 740 Tahun 2024 tentang Perolehan Suara Partai Politik Peserta Pemilu.
Artikel Tribun Timur berjudul Sepulang dari Soppeng, Muhidin Laporkan Aspirasi 24 DPD II Golkar ke Bahlil
| DPD II Barru: Calon Ketua Golkar Sulsel Baru Harus Sejalan Visi Bahlil |
|
|---|
| Sepulang dari Soppeng, Muhidin Laporkan Aspirasi 24 DPD II Golkar ke Bahlil |
|
|---|
| Di Depan Ribuan Kader, Muhidin Bangga Soppeng Selalu Jadi Lumbung Beringin |
|
|---|
| Konsolidasi di Soppeng, Muhidin: Bahlil Ingin Musda Golkar Sulsel Aklamasi |
|
|---|
| Kaswadi dan Supriansa Sambut Muhidin di Soppeng, Konsolidasi Penutup Jelang Musda Golkar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260517-Asratillah-3.jpg)