Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Musda Golkar Sulsel

Musda atau Perpecahan: Konsolidasi Masa Depan Golkar Sulsel

Muhidin secara terbuka menyampaikan pesan Bahlil Musda Sulsel diharapkan berakhir melalui aklamasi

Tayang:
Editor: Ari Maryadi
Tribun-timur.com
Asratillah Direktur Profetik Institute 

Oleh: Asratillah
Direktur Profetik Institute

Konsolidasi sebagai Jalan Menyelamatkan Golkar Sulsel

MUSYAWARAH Daerah Partai Golkar Sulawesi Selatan tahun 2026 tidak lagi sekadar agenda rutin pergantian kepemimpinan. Musda kali ini telah berubah menjadi momentum penentuan nasib politik Golkar Sulsel setelah partai berlambang pohon beringin itu mengalami kemunduran elektoral dalam dua pemilu terakhir. Kekalahan di Kota Makassar pada 2019 dan hilangnya kursi Ketua DPRD Sulsel pada Pemilu 2024 menjadi alarm serius bahwa Golkar tidak lagi berada dalam posisi dominan seperti masa lalu.

Dalam situasi itu, pidato Pelaksana Tugas Ketua DPD I Golkar Sulsel H Muhidin Mohamad Said pada Rapat Konsolidasi Dapil II Sulsel di Soppeng menjadi sangat penting dibaca secara politik dan organisatoris. Pidato tersebut tidak hanya berisi ajakan persatuan, tetapi juga memuat arah strategis bagaimana Golkar Sulsel harus keluar dari potensi konflik internal menjelang Musda.

Muhidin secara terbuka menyampaikan pesan Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia bahwa Musda Sulsel diharapkan berakhir melalui aklamasi, bukan voting. Pesan ini bukan tanpa alasan. Dalam sejarah Golkar Sulsel, konflik internal seringkali meninggalkan luka panjang dan melemahkan konsolidasi partai di tingkat bawah. Muhidin bahkan mengingat kembali pengalaman Musda 2020 yang harus diselesaikan di Jakarta dan membuat dinamika internal partai sangat melelahkan.

Pernyataan Muhidin bahwa dirinya sampai dua malam tidak tidur akibat konflik Musda 2020 sebenarnya memiliki pesan simbolik yang kuat. Ia sedang mengingatkan bahwa kemenangan politik tidak akan pernah tercapai jika energi partai habis hanya untuk bertarung di internal sendiri. Dalam konteks itu, pidato Muhidin bukan sekadar pidato organisasi, tetapi semacam peringatan politik kepada seluruh kader Golkar Sulsel.

Secara teoritis, pendekatan Muhidin sangat dekat dengan konsep political institutionalism yang dikembangkan Samuel Huntington dalam buku Political Order in Changing Societies (1968). Huntington menjelaskan bahwa kekuatan partai politik sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga stabilitas internal dan mengelola konflik elite. Ketika konflik internal tidak terkendali, maka kapasitas partai untuk memenangkan kompetisi eksternal akan ikut melemah.

Kondisi ini sangat relevan dengan Golkar Sulsel hari ini. Dalam dua pemilu terakhir, Golkar mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan Keputusan KPU Sulsel Nomor 740 Tahun 2024, Golkar hanya memperoleh 770.454 suara dan berada di posisi ketiga di bawah Nasdem dengan 887.682 suara serta Gerindra dengan 812.563 suara. Angka ini memperlihatkan bahwa Golkar tidak lagi menjadi kekuatan dominan tunggal di Sulsel.

Karena itu, seruan konsolidasi Muhidin sesungguhnya merupakan upaya menyelamatkan Golkar dari ancaman fragmentasi politik internal yang bisa semakin memperburuk posisi partai menuju Pemilu 2029.

Politik Aklamasi dan Pertarungan Tiga Figur Golkar Sulsel

Salah satu poin paling menarik dari pidato Muhidin adalah dorongannya agar Musda Golkar Sulsel diselesaikan melalui aklamasi. Dalam budaya politik Golkar, aklamasi sering dipahami sebagai simbol persatuan dan kedewasaan elite partai. Muhidin bahkan mencontohkan bahwa lima provinsi lain di Pulau Sulawesi telah berhasil melaksanakan Musda secara aklamasi.

Namun dalam perspektif politik modern, aklamasi tidak hanya soal persatuan, tetapi juga tentang kemampuan menemukan figur yang diterima oleh mayoritas kekuatan internal partai. Dalam konteks Golkar Sulsel saat ini, pertarungan mengerucut pada tiga nama yakni Ilham Arief Sirajuddin atau IAS, Munafri Arifuddin atau Appi, dan Andi Ina Kartika Sari.

IAS adalah figur senior dengan pengalaman panjang dan jejaring politik yang luas. Ia memiliki kapasitas membaca peta kekuatan elite serta kemampuan menjaga keseimbangan antar kelompok di internal Golkar. Sementara Andi Ina hadir sebagai simbol regenerasi politik Golkar Sulsel. Ia membawa energi baru dan representasi kader perempuan yang memiliki posisi strategis dalam struktur partai.

Namun dalam konteks pidato Muhidin yang menekankan konsolidasi akar rumput, nama Munafri Arifuddin terlihat memiliki relevansi politik yang cukup kuat. Appi selama ini disebut mendapatkan dukungan mayoritas DPD II kabupaten kota. Dukungan ini penting karena Muhidin sendiri menegaskan bahwa dirinya tidak ingin terburu buru menentukan jadwal Musda sebelum mendengar aspirasi kader di tiga dapil Sulsel.

Pendekatan bottom up yang dilakukan Muhidin sesungguhnya mengandung pesan bahwa suara daerah harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan arah kepemimpinan Golkar Sulsel. Dalam konteks itu, posisi Appi menjadi semakin menarik karena ia dianggap memiliki penerimaan yang cukup luas di tingkat bawah.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved