Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Polisi Menjaga Jalanan, Siapa Jaga Meja Makan?

Jalanan yang seharusnya menjadi ruang publik yang aman, tiba-tiba bertransformasi menjadi panggung teatrikal kekerasan.

Tayang:
Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/Ist
OPINI - Muh. Fachrur Razy Mahka Kaprodi Hukum Universitas Handayani Makassar 

Black berargumen bahwa “Hukum akan semakin kuat keberadaannya Ketika kontrol sosial lainnya melemah”.

Artinya, ketergantungan kita yang sangat tinggi pada tindakan polisi di jalanan Makassar sebenarnya adalah sebuah pengakuan jujur akan runtuhnya kendali sosial di level keluarga dan komunitas.

Semakin polisi dipaksa bekerja keras melakukan penangkapan, semakin terlihat jelas betapa rapuhnya pengawasan yang dilakukan oleh orang tua di rumah.

Mengandalkan polisi untuk menghapus fenomena geng motor tanpa memperbaiki perilaku di tingkat domestik adalah sebuah kesia-siaan sosiologis.

Ini ibarat kita terus menerus memanggil pemadam kebakaran untuk memadamkan api di sebuah gedung, namun kita sendiri membiarkan instalasi listrik yang korsleting tetap terpasang tanpa perbaikan.

Borgol polisi mungkin bisa menghentikan aksi kriminal sesaat, namun ia tidak memiliki daya magis untuk menanamkan nilai moral yang gagal diinternalisasi di meja makan.

Ketika hukum formal dipaksa mengambil alih seluruh fungsi pendidikan karakter, maka hukum tersebut sebenarnya sedang memikul beban yang bukan kodratnya.

Jika jalanan adalah domain kepolisian, maka meja makan seharusnya menjadi ”benteng pertahanan” pertama bagi orang tua.

Dalam sosiologi, keluarga adalah institusi primer di mana internalisasi nilai dan norma terjadi untuk pertama kalinya.

Saya menggunakan metafora ”Meja Makan” bukan sekedar sebagai tempat mengisi perut, melainkan sebagai simbol ruang komunikasi, ruang pendisiplinan, dan ruang di mana otoritas orang tua ditegakkan secara persuasif.

Ironinya, maraknya geng motor di Makassar adalah cerminan dari kursi-kursi yang kosong di meja makan (kosong bukan secara fisik, melainkan kosong secara esensi).

Kita menghadapi fenomena di mana orang tua hadir di rumah, namun ”absen” dalam kehidupan emosional anak.

Ketika ruang meja makan menjadi sunyi tanpa dialog, anak-anak akan mencari suara lain di luar sana.

Mereka kemudian menemukan ”keluarga baru” dalam bentuk geng motor yang menawarkan solidaritas semu, pengakuan, dan kebanggaan yang tidak mereka dapatkan di bawah atap rumah sendiri.

Jika orang tua tidak lagi tahu dengan siapa anaknya berteman, apa yang mereka simpan di dalam bagasi motor, atau mengapa mereka belum pulang hingga dini hari, maka pada detik itulah kita sebenarnya sedang mengantar anak-anak ke pintu sel tahanan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved