Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Bagong Suyanto

Darurat Geng Motor dan Begal di Makassar

Pelaku geng motor dan begal bukanlah penjahat atau residivis dewasa yang sudah keluar-masuk bui berkali-kali.

Tayang:
Tribun-timur.com
OPINI - Bagong Suyanto, Guru Besar dan Dosen Prodi S2 kajian Ilmu Kepolisian Pascasarjana Universitas Airlangga 

Hingga kini, puluhan anggota geng motor yang terlibat penyerangan warga di Makassar telah berhasil ditangkap.

Namun, penindakan hukum saja tidak cukup.

Penjara sering kali tidak membuat mereka jera, justru menjadi "sekolah" kriminalitas baru.

Pada titik inilah yang perlu dikembangkan adalah pendekatan yang komprehensif –tidak sifatnya tidak hanya legal-punitif.

Ancaman sanksi dan hukum penjara sering justru menjadi bagian dari proses inisiasi yang membanggakan remaja yang tergabung dalam geng motor.

Bagi mereka, ditangkap polisi dan dipenjara seringkali dianggap sebagai hal yang membanggakan dan akan menjadi legitimasi bagi mereka untuk mendapatkan pengakuan di hadapan kelompoknya.

Kolaborasi

Memastikan kondisi kota Makassar yang aman dan bebas dari geng motor serta begal adalah upaya jangka menengah.

Upaya ini tidak mungkin dapat dilakukan melalui cara-cara instant.

Penegakan hukum yang tegas dan terukur (hard approach) harus berjalan seiring dengan pencegahan berbasis komunitas, edukasi, dan pembinaan karakter remaja (soft approach).

Perlu disadari bahwa ulah geng motor adalah bagian dari subkultur masyarakat marginal di wilayah urban yang tidak mudah dihapus begitu saja.

Kolaborasi antara polisi, pemerintah kota, dan masyarakat—terutama peran aktif orang tua dalam mengawasi anak-anak mereka di malam hari—adalah kunci utama untuk mencegah agar fenomena geng motor tidak makin meruyak.

Komunitas lokal harus memiliki kepekaan dan berani melaporkan kegiatan mencurigakan yang dilakukan remaja sebelum berubah menjadi aksi anarkis.

Kodim Makassar pun telah menunjukkan komitmen untuk berkolaborasi dengan Polri untuk menertibkan geng motor.

Dalam rangka mewujudkan kota Makassar yang aman, polisi jelas tidak mungkin bekerja sendirian.

Pemerintah kota juga tidak mungkin mampu mengawasi semua sudut kota dari kemungkinan ulah geng motor.

Sepanjang polisi, pemerintah kota, dan warga bersatu padu—tidak lagi membiarkan anak-anak berkeliaran membawa busur atau pedang di tengah malam—, maka upaya untuk menumpas geng motor dan begal hingga ke akarnya akan dapat diwujudkan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved