Kilas Tokyo
Realita Kereta
Kereta adalah wajah realita Jepang. Realitas masyarakat yang selalu sibuk. Kereta tak pernah sepi penumpang.
Oleh: Muh. Zulkifli Mochtar
Diaspora Indonesia di Tokyo, Ketua ICMI Jepang
TRIBUN-TIMUR.COM - Kereta adalah wajah realita Jepang.
Realitas masyarakat yang selalu sibuk.
Kereta tak pernah sepi penumpang.
Terutama di pagi hari, saat stasiun kereta di Tokyo dipenuhi jutaan manusia setengah berlari mengejar waktu.
Jangan pikir anda akan mudah mendapat kursi duduk.
Terkadang untuk dapat tempat berdiri baik pun susah.
Untuk keluar kota, shinkasen memang pilihan utama.
Baca juga: Karyawan Sejahtera
Shinkansen Jepang terkenal efisien, diatur secara ketat berdasar standar keamanan tinggi.
Track Record menawan; tidak pernah mengalami kecelakaan dalam 57 tahun sejarahnya.
Kecepatan shinkansen juga makin pesat.
Saat pembukaan kecepatan maksimun masih 210 km / jam.
Di tahun 2011, tipe "Hayabusa", berkecepatan 320 km memulai debutnya.
Generasi shinkasen berikutnya juga sedang uji coba "ALFA-X" yang mampu mencatat kecepatan 400 km / jam.
Teknologi kereta juga makin maju seiring perlombaan memburu yang tercepat dengan negara lain.
Kereta adalah wajah realitas kehidupan Jepang yang selalu mengedepankan ketepatan waktu.
Kereta Jepang sangat akurat dan strictly dalam hal jadwal.
Hingga penumpang kereta mengenal sebuah kertas kecil Chien Shoumeisho atau Train Delay Certificate.
Ini semacam notifikasi keterlambatan dikeluarkan operator kereta dan operator bus untuk tujuan informasi resmi keterlambatan transportasi mereka.
Chien Shoumeisho bukan untuk pengembalian uang tiket.
Sekedar pembuktian bahwa kereta telah terlambat dan dan tidak tepat waktu karena suatu hal.
Kertas kecil ini akan didistribusikan petugas kereta umumnya di gerbang tiket pada jalur jalur kereta yang delay.
Saat ini bisa juga didownload dari website perusahaan kereta.
Dengan menyerahkan Chien Shoumeisho ini ke tempat kerja, maka akan diketahui bahwa keterlambatan bukan karena kesalahan anda.
Kereta juga gambaran realita mayarakat Jepang yang sangat mengepankan etika, kebersamaan dan penghargaan kepada orang lain.
Jika berangkat ke tempat kerja pagi hari, kereta sangat penuh sesak tapi suasana hening.
Penumpang memilih membaca buku, tidur atau mendengarkan musik melalui headset.
Mengapa mereka bisa hening seperti itu?
Masyarakat Jepang selalu diharapkan berpikir bertindak harmonis secara kolektif.
Karena norma inilah salah satunya, anda tidak mendengar suara ribut di kereta karena semua berusaha membaca situasi.
Kereta juga sekaligus gambaran realita beratnya perjuangan keras masyarakat.
Wajah kelelahan dan para pekerja tertidur pulas kecapekan dikursi kereta.
Warga bekerja keras untuk bisa hidup layak ditengah standar hidup tinggi.
Juga ditengah naiknya harga harga belakangan ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Zulkifli-Mochtar-07032026.jpg)