Kilas Tokyo
Ironi Riset Jepang
Dalam kurun 20 tahun itu, Jepang hanya punya tiga peraih Nobel yakni Kenichi Fukui, Susumu Tonegawa dan Kenzaburo Oe.
Oleh: Muh. Zulkifli Mochtar
Diaspora Indonesia di Tokyo, Ketua ICMI Jepang
TRIBUN-TIMUR.COM - Saya menonton ulang film Beautiful Mind rilisan tahun 2001.
Film yang mengantar sutradara Ron Howard merebut Piala Oscar.
Film menceritakan kesungguhan meneliti peraih Nobel Ekonomi John Forbes Nash Jr - Seorang mathematic jenius.
Lalu John Nash mengidap skizofrenia paranoid di usia 31 tahun, lalu akhirnya masuk rumah sakit jiwa.
Apa hubungannya dengan Jepang? Di era tahun1980 - 2000, pengembangan riset sangat kuat di negara ini.
Menurut data WIPO, 31 persen penerima paten dunia berasal dari perusahaan Jepang.
Ketika warga Amerika dan Eropa berjaya peraihan Nobel, Jepang sangat digjaya di paten terapan.
Dalam kurun 20 tahun itu, Jepang hanya punya tiga peraih Nobel yakni Kenichi Fukui, Susumu Tonegawa dan Kenzaburo Oe.
Lalu lahirlah nation goal untuk mencetak lebih banyak peraih Nobel kedepan di era PM Juinichiro Koizumi.
Peraih Nobel Jepang mengatakan bahwa untuk meraih Nobel memerlukan karakter berpikir berbeda, yakni kenikmatan dan kesenangan hidup untuk meneliti.
Mental inilah yang kurang lebih digambarkan jelas dalam profil John Forbes Nash dalam film A Beautiful Mind diatas.
Setelah itu, peraihan Nobel hampir menjadi tradisi tahunan para ilmuwan Jepang.
Hingga tahun lalu, sudah ada 31 peraih Nobel warga kelahiran Jepang.
Dalam bidang Natural Sciences, sejak abad 21, peraih nobel Jepang terbanyak setelah Amerika.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Zulkifli-Mochtar-07032026.jpg)