Opini
Ketika Kampus Membiarkan Rokok Menemukan Rumahnya
Kampus yang seharusnya menjadi ruang pembentukan perilaku sehat justru kerap menjadi tempat normalisasi perilaku berisiko.
Namun, semua ini tidak akan berjalan optimal tanpa komitmen institusi.
Kampus perlu bergerak dari sekadar memiliki regulasi menuju implementasi yang konsisten dan berkelanjutan.
Kawasan Tanpa Rokok tidak cukup hanya ditandai dengan papan larangan, tetapi harus dihidupkan melalui budaya bersama.
Penegakan aturan yang adil, penyediaan ruang ekspresi alternatif, serta dukungan terhadap inisiatif mahasiswa menjadi kunci perubahan.
Pada akhirnya, isu merokok di kampus bukan hanya tentang perilaku kesehatan, tetapi tentang bagaimana lingkungan membentuk pilihan individu.
Jika kampus membiarkan ruang-ruangnya diisi oleh asap rokok, maka ia secara tidak langsung memberi panggung bagi perilaku tersebut untuk terus bertahan.
Namun, jika kampus mampu menghadirkan ruang yang lebih bermakna—ruang kreativitas, kolaborasi, dan ekspresi diri—maka rokok tidak lagi menjadi simbol yang relevan.
Ketika mahasiswa menemukan panggungnya di ruang-ruang produktif, rokok perlahan akan kehilangan tempatnya.
Bukan karena dilarang semata, tetapi karena tidak lagi dibutuhkan.
| Siswa SMA Islam Athirah Didorong Bikin Buku Antologi, Karya Tulis Ilmiah, Artikel |
|
|---|
| Ketika Tempat Penitipan Menjadi Tempat Ketakutan: Alarm Krisis Pengasuhan Anak |
|
|---|
| Sa’i Hybrid: Ketika Ibadah Bertemu Fleksibilitas dan Kepedulian Sosial |
|
|---|
| Swasembada Pangan Benteng Utama Ketahanan Negeri |
|
|---|
| Mengapa Jurusan Keguruan Mulai Diragukan? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-04-07-Nur-Afiaty-Mursalim.jpg)