Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Ketika Kampus Membiarkan Rokok Menemukan Rumahnya

Kampus yang seharusnya menjadi ruang pembentukan perilaku sehat justru kerap menjadi tempat normalisasi perilaku berisiko.

Tayang:
Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/Ist
OPINI - Nur Afiaty Mursalim Dosen Prodi D4 Promosi Kesehatan FIKK UNM 

Namun, semua ini tidak akan berjalan optimal tanpa komitmen institusi.

Kampus perlu bergerak dari sekadar memiliki regulasi menuju implementasi yang konsisten dan berkelanjutan.

Kawasan Tanpa Rokok tidak cukup hanya ditandai dengan papan larangan, tetapi harus dihidupkan melalui budaya bersama.

Penegakan aturan yang adil, penyediaan ruang ekspresi alternatif, serta dukungan terhadap inisiatif mahasiswa menjadi kunci perubahan.

Pada akhirnya, isu merokok di kampus bukan hanya tentang perilaku kesehatan, tetapi tentang bagaimana lingkungan membentuk pilihan individu.

Jika kampus membiarkan ruang-ruangnya diisi oleh asap rokok, maka ia secara tidak langsung memberi panggung bagi perilaku tersebut untuk terus bertahan.

Namun, jika kampus mampu menghadirkan ruang yang lebih bermakna—ruang kreativitas, kolaborasi, dan ekspresi diri—maka rokok tidak lagi menjadi simbol yang relevan.

Ketika mahasiswa menemukan panggungnya di ruang-ruang produktif, rokok perlahan akan kehilangan tempatnya.

Bukan karena dilarang semata, tetapi karena tidak lagi dibutuhkan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved