Opini
Ketika Kampus Membiarkan Rokok Menemukan Rumahnya
Kampus yang seharusnya menjadi ruang pembentukan perilaku sehat justru kerap menjadi tempat normalisasi perilaku berisiko.
Mahasiswa menangkap pesan yang bertolak belakang: secara formal dilarang, tetapi secara sosial diterima.
Dalam perspektif Theory of Planned Behavior, kondisi ini memperkuat norma subjektif yang mendukung perilaku merokok.
Jika lingkungan sekitar—termasuk figur otoritas—tidak menunjukkan resistensi yang jelas, maka tekanan sosial untuk tidak merokok menjadi lemah.
Bahkan, dalam beberapa konteks, justru terbentuk tekanan sebaliknya: untuk merokok agar dianggap “masuk” dalam kelompok.
Pendekatan konvensional seperti sosialisasi bahaya rokok atau pemasangan tanda larangan merokok tentu tetap diperlukan, tetapi jelas belum cukup.
Kampus membutuhkan strategi yang lebih kontekstual dan partisipatif.
Salah satu pendekatan yang relevan adalah mengadopsi kembali ruang-ruang kreativitas mahasiswa sebagai medium intervensi.
Mahasiswa pada dasarnya berada dalam fase eksplorasi diri yang kuat.
Mereka aktif dalam seni, media digital, komunitas kreatif, hingga gerakan sosial.
Ruang-ruang ini dapat menjadi alternatif “panggung” yang lebih bermakna dibandingkan sekadar berkumpul sambil merokok.
Ketika mahasiswa terlibat dalam produksi konten kreatif—film pendek, podcast, desain kampanye digital, atau pertunjukan seni—mereka tidak hanya mengekspresikan diri, tetapi juga membangun identitas yang tidak bergantung pada simbol rokok.
Dalam kerangka Social Cognitive Theory, keberadaan role model sebaya menjadi kunci.
Mahasiswa lebih mudah terpengaruh oleh teman yang mereka anggap relevan dibandingkan oleh otoritas formal.
Ketika muncul figur-figur mahasiswa yang aktif, kreatif, dan secara terbuka memilih untuk tidak merokok, maka terbentuklah model perilaku alternatif yang lebih kuat.
Proses observasi ini diperkuat oleh pengalaman langsung, yang pada akhirnya meningkatkan self-efficacy—keyakinan bahwa mereka mampu menolak tekanan sosial untuk
merokok tanpa kehilangan identitas sosialnya.
| Siswa SMA Islam Athirah Didorong Bikin Buku Antologi, Karya Tulis Ilmiah, Artikel |
|
|---|
| Ketika Tempat Penitipan Menjadi Tempat Ketakutan: Alarm Krisis Pengasuhan Anak |
|
|---|
| Sa’i Hybrid: Ketika Ibadah Bertemu Fleksibilitas dan Kepedulian Sosial |
|
|---|
| Swasembada Pangan Benteng Utama Ketahanan Negeri |
|
|---|
| Mengapa Jurusan Keguruan Mulai Diragukan? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-04-07-Nur-Afiaty-Mursalim.jpg)