Makkunrai 2026
Perempuan Multiperan di Era Kompleksitas
Dalam kerangka sosial yang masih dipengaruhi budaya patriarki, perempuan sering kali berada dalam posisi paradoksal.
Penulis: Sudarmin Tandi Pora’
Mahasiswa UIN Palopo
DI TENGAH lanskap sosial yang kian dinamis, perempuan hari ini hidup dalam persimpangan peran yang tidak sederhana.
Ia bukan lagi hanya figur domestik sebagaimana dibingkai dalam narasi klasik, tetapi juga aktor produktif dalam ruang public.
Profesional, penggerak ekonomi, sekaligus penjaga nilai dalam keluarga.
Kompleksitas ini melahirkan satu realitas: perempuan modern dituntut untuk “menjadi banyak” dalam satu waktu, tanpa selalu diberi ruang yang adil untuk menegosiasikan beban tersebut.
Dalam kerangka sosial yang masih dipengaruhi budaya patriarki, perempuan sering kali berada dalam posisi paradoksal.
Di satu sisi, ia didorong untuk mandiri, berdaya, dan berkontribusi secara ekonomi; di sisi lain, standar domestik yang dilekatkan kepadanya tidak mengalami reduksi yang signifikan.
Akibatnya, perempuan memikul beban ganda, bahkan kerap kali beban berlapis.
Hal ini yang oleh banyak studi disebut sebagai double burden atau triple role.
Penelitian International Labour Organization menunjukkan bahwa perempuan secara global menghabiskan waktu hampir tiga kali lebih banyak dibanding laki-laki dalam pekerjaan domestik dan perawatan yang tidak dibayar.
Di Indonesia, temuan Badan Pusat Statistik juga mengonfirmasi bahwa perempuan, meskipun aktif bekerja, tetap menjadi penanggung jawab utama urusan rumah tangga.
Fakta ini mengindikasikan bahwa modernitas belum sepenuhnya membebaskan perempuan dari konstruksi peran tradisional; ia justru memperluas spektrum tanggung jawab tanpa distribusi yang setara.
Lebih jauh, dilema perempuan tidak berhenti pada soal distribusi peran, tetapi juga menyentuh wilayah pengakuan sosial.
Perempuan yang memilih berkarier sering kali dihadapkan pada tuntutan perfeksionisme, harus berhasil di ruang publik tanpa mengabaikan kesempurnaan domestik.
| Kisah Yessy Kusman, Kartini Luwu Nakhoda Kapal Pengangkut Batu Bara Kalimantan - Jawa |
|
|---|
| Mengenal Nanin, Satu-satunya Camat Perempuan di Makassar: Berani Tampil dan Memimpin |
|
|---|
| Fatmawati Rusdi Bawa Harapan Baru bagi Kepemimpinan Perempuan |
|
|---|
| Wagub Sulsel Fatmawati Rusdi: Kita Ingin Perempuan Sulsel Mandiri |
|
|---|
| Bu Titi: Kalau Perempuan Bergerak, Semua Beres! |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/TRIBUN-OPINI-Sudarmin-Tandi-Pora-Mahasiswa-UIN-Palopo.jpg)