Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Mengupayakan Ruang Perjumpaan Iman

Beberapa orang memilih memainkan gitar, bernyanyi, bermain game kartu, atau sekedar bercakap-cakap santai.

Ist
OPINI - Syamsul Arif Galib, Mahasiswa di School of Communication, Society and Culture, Macquarie University / Akademisi Prodi Studi Agama-Agama UIN Alauddin Makassar 

Dialog antar iman yang dilakukan terus menerus namun hanya dihadiri oleh orang yang sama setiap saat dan pada dasarnya telah selesai dengan persoalan perbedaan keyakinannya, tidak akan menambah volume gerakan perjumpaan atau keterpaparan masyarakat umum tentang pengalaman perjumpaan.

Dua Realitas Hubungan Lintas Iman

Mengupayakan ruang perjumpaan menjadi penting karena dalam realitas masyarakat Indonesia yang majemuk ada fakta-fakta di mana masyarakat hidup rukun berdampingan dengan mereka yang berbeda iman.

Namun, kita juga tidak bisa denial bahwa ada ruang-ruang di mana kita menaruh kecurigaan terhadap iman yang berbeda atau ketidak relaan melihat iman yang berbeda ada di sekitar kita.

Masyarakat Indonesia terdiri dari mereka yang telah selesai dengan persoalan perbedaan imannya dan juga mereka yang masih melihat iman yang berbeda sebagai persoalan.

Di dua realitas inilah kita hidup.

Di satu daerah, dua tempat beribadah bisa berdiri berdampingan, namun di tempat yang lain, tempat beribadah yang bahkan tidak berdampingan sekalipun bisa disegel.

Cara pandang dan cara bersikap terhadap mereka yang berbeda iman salah satunya juga sangat dipengaruhi oleh pengalaman perjumpaan yang pernah seseorang rasakan.

Untuk itulah perjumpaan demi perjumpaan harus terus diinisiasi.

Perjumpaan yang cair namun membangun kesadaran bahwa iman yang berbeda adalah bagian dari realitas ke-Indonesiaan dan realitas kemanusiaan.

Kini, meski Ramadan sudah berlalu, harapannya tentu saja ruang perjumpaan ini terus terjadi sehingga dia tidak menjadi ritual musiman yang hanya marak di bulan Ramadan.

Membangun ruang perjumpaan iman ini adalah tugas bersama.

Bukan semata-mata tanggung jawab kelompok non-dominan.

Kelompok dominan pun diharapkan ikut terlibat aktif dalam menginisiasi dan merawat perjumpaan ini.

Dengan semakin banyak pihak yang terlibat dalam mengupayakan ruang perjumpaan iman, maka akan semakin banyak pula orang yang merasakan pengalaman dan manfaat dari perjumpaan itu.

Wallahu A’lam bi Asshwwab

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Cinta dan Syukur

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved