Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Mengupayakan Ruang Perjumpaan Iman

Beberapa orang memilih memainkan gitar, bernyanyi, bermain game kartu, atau sekedar bercakap-cakap santai.

Ist
OPINI - Syamsul Arif Galib, Mahasiswa di School of Communication, Society and Culture, Macquarie University / Akademisi Prodi Studi Agama-Agama UIN Alauddin Makassar 

Oleh: Syamsul Arif Galib
Mahasiswa di School of Communication, Society and Culture, Macquarie University / Akademisi Prodi Studi Agama-Agama UIN Alauddin Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM - Sore itu, Rumah Biara St. Bonaventura Jogjakarta kembali menjadi ruang perjumpaan iman bagi generasi muda.

Belasan anak-anak muda dari latar belakang iman yang berbeda berkumpul Bersama dalam kegiatan buka puasa bersama lintas iman yang diinisiasi oleh kawan-kawan Initiative of Change Indonesia bersama kawan-kawan Frater Fransiskan.

Sembari menunggu azan Magrib berkumandang, pertanda buka puasa, mereka duduk bersama, berbagi cerita dan bermain bersama.

Menu buka puasa malam itu disiapkan oleh kawan-kawan Frater (calon Pastor dalam gereja Katolik) bersama beberapa kawan Muslim.

Usai berbuka, suasana terlihat semakin akrab.

Beberapa orang memilih memainkan gitar, bernyanyi, bermain game kartu, atau sekedar bercakap-cakap santai.

Buka puasa lintas iman seperti ini adalah tradisi yang menarik dan marak terjadi di setiap bulan Ramadan di Indonesia.

Bulan Ramadan bukan hanya menjadi bulannya umat Islam.

Dia juga dirayakan oleh kawan-kawan dengan iman yang berbeda.

Tradisi ini menjadi ruang bersama untuk saling mempertemukan iman yang berbeda.

Di bulan Ramadan, ruang-ruang perjumpaan iman terbangun dan dikemas dalam bentuk buka puasa bersama.

Momentum buka puasa bersama lintas iman menjadi momentum digalakkannya perjumpaan iman.

Boleh dibilang, dibanding bulan lain di luar bulan Ramadan, intensitas perjumpaan lintas iman justru lebih sering terjadi di bulan Ramadan.

Di banyak kesempatan, yang menjadi tuan rumah justru bukanlah yang berpuasa melainkan penganut iman yang lain.

Terkadang, acara berbuka puasa ini dilaksanakan di aula Gereja, di Katedral, ataupun di Biara.

Ruang Perjumpaan Yang Cair

Ruang perjumpaan iman yang cair. Begitu saya menyebutkan ruang perjumpaan malam itu.

Ruang di mana anak muda berbeda iman datang dengan kesadaran penuh bahwa mereka memiliki identitas iman yang berbeda dan siap membincangkan identitas itu, namun dengan suasana yang terasa lebih kepada suasana tongkrongan.

Istilah perjumpaan iman yang cair ini untuk membedakan dengan ruang perjumpaan iman lain yang seringkali terkesan formalistik dan cenderung simbolistik.

Ruang-ruang perjumpaan yang justru kehilangan kecairannya.

Seringkali, kegiatan yang didesain sebagai dialog lintas iman justru berakhir menjadi sebuah monolog lintas iman.

Alih-alih, merasakan pengalaman perjumpaan iman, peserta datang hanya untuk mendengarkan para tokoh berbicara tentang apa pentingnya toleransi ataupun pemahaman atas iman yang berbeda.

Kritik atas dialog yang terkesan formalisitik, simbolistik dan juga elitis ini sudah seringkali disuarakan.

Profesor Dr. Imtiyaz Yusuf, seorang Profesor Studi Islam dan Dialog di International Institute of Islamic Thought and Civilisation, International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM) dalam sebuah wawancara bersama Matt Lindén dari Study Buddhism menyebutkan pandangannya tentang praktik dialog antar iman yang selama ini terjadi.

Menurutnya Imtiyaz Yusuf (2020), terkadang interfaith dialog tidak begitu efektif karena seringkali hanya dalam bentuk pertemuan sekali atau dengan kesempatan foto bersama.

Prof Imtiyaz menyebut dialog semacam ini dengan sebutan “Goody-Goody Dialogue,” atau dialog yang isinya hanya menceritakan tentang kebaikan dalam agama sendiri dan kebaikan agama orang lain.

Seringkali pula, dialog-dialog ini tidak berlanjut hingga ke masyarakat.

Senada dengan itu, Izak Y. M. Lattu, seorang professor kajian antaragama dan Sosiologi Agama di Departemen Teologi dan Sosiologi Agama, Universitas Kristen Satya Wacana, dalam tulisannya, Beyond Interreligious Dialogue: Oral-Based Interreligious Engagements in Indonesia (2019; 71-78) menuliskan bahwa seringkali dialog-dialog yang dilaksanakan selama ini seringkali tidak memberikan jaminan akan hubungan yang damai antar penganut umat beragama yang berbeda karena dialog-dialog yang diadakan fokus pada kelompok elit, didominasi oleh para pria yang telah berumur, sangat resmi dan juga berbasis teks.

Segala bentuk kritik ini sebenarnya bagian dari harapan agar kegiatan perjumpaan iman bisa lebih menyasar ke arah masyarakat luas.

Dialog antar iman yang dilakukan terus menerus namun hanya dihadiri oleh orang yang sama setiap saat dan pada dasarnya telah selesai dengan persoalan perbedaan keyakinannya, tidak akan menambah volume gerakan perjumpaan atau keterpaparan masyarakat umum tentang pengalaman perjumpaan.

Dua Realitas Hubungan Lintas Iman

Mengupayakan ruang perjumpaan menjadi penting karena dalam realitas masyarakat Indonesia yang majemuk ada fakta-fakta di mana masyarakat hidup rukun berdampingan dengan mereka yang berbeda iman.

Namun, kita juga tidak bisa denial bahwa ada ruang-ruang di mana kita menaruh kecurigaan terhadap iman yang berbeda atau ketidak relaan melihat iman yang berbeda ada di sekitar kita.

Masyarakat Indonesia terdiri dari mereka yang telah selesai dengan persoalan perbedaan imannya dan juga mereka yang masih melihat iman yang berbeda sebagai persoalan.

Di dua realitas inilah kita hidup.

Di satu daerah, dua tempat beribadah bisa berdiri berdampingan, namun di tempat yang lain, tempat beribadah yang bahkan tidak berdampingan sekalipun bisa disegel.

Cara pandang dan cara bersikap terhadap mereka yang berbeda iman salah satunya juga sangat dipengaruhi oleh pengalaman perjumpaan yang pernah seseorang rasakan.

Untuk itulah perjumpaan demi perjumpaan harus terus diinisiasi.

Perjumpaan yang cair namun membangun kesadaran bahwa iman yang berbeda adalah bagian dari realitas ke-Indonesiaan dan realitas kemanusiaan.

Kini, meski Ramadan sudah berlalu, harapannya tentu saja ruang perjumpaan ini terus terjadi sehingga dia tidak menjadi ritual musiman yang hanya marak di bulan Ramadan.

Membangun ruang perjumpaan iman ini adalah tugas bersama.

Bukan semata-mata tanggung jawab kelompok non-dominan.

Kelompok dominan pun diharapkan ikut terlibat aktif dalam menginisiasi dan merawat perjumpaan ini.

Dengan semakin banyak pihak yang terlibat dalam mengupayakan ruang perjumpaan iman, maka akan semakin banyak pula orang yang merasakan pengalaman dan manfaat dari perjumpaan itu.

Wallahu A’lam bi Asshwwab

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Cinta dan Syukur

 

Kisah Keringat

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved