Opini
Mengupayakan Ruang Perjumpaan Iman
Beberapa orang memilih memainkan gitar, bernyanyi, bermain game kartu, atau sekedar bercakap-cakap santai.
Terkadang, acara berbuka puasa ini dilaksanakan di aula Gereja, di Katedral, ataupun di Biara.
Ruang Perjumpaan Yang Cair
Ruang perjumpaan iman yang cair. Begitu saya menyebutkan ruang perjumpaan malam itu.
Ruang di mana anak muda berbeda iman datang dengan kesadaran penuh bahwa mereka memiliki identitas iman yang berbeda dan siap membincangkan identitas itu, namun dengan suasana yang terasa lebih kepada suasana tongkrongan.
Istilah perjumpaan iman yang cair ini untuk membedakan dengan ruang perjumpaan iman lain yang seringkali terkesan formalistik dan cenderung simbolistik.
Ruang-ruang perjumpaan yang justru kehilangan kecairannya.
Seringkali, kegiatan yang didesain sebagai dialog lintas iman justru berakhir menjadi sebuah monolog lintas iman.
Alih-alih, merasakan pengalaman perjumpaan iman, peserta datang hanya untuk mendengarkan para tokoh berbicara tentang apa pentingnya toleransi ataupun pemahaman atas iman yang berbeda.
Kritik atas dialog yang terkesan formalisitik, simbolistik dan juga elitis ini sudah seringkali disuarakan.
Profesor Dr. Imtiyaz Yusuf, seorang Profesor Studi Islam dan Dialog di International Institute of Islamic Thought and Civilisation, International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM) dalam sebuah wawancara bersama Matt Lindén dari Study Buddhism menyebutkan pandangannya tentang praktik dialog antar iman yang selama ini terjadi.
Menurutnya Imtiyaz Yusuf (2020), terkadang interfaith dialog tidak begitu efektif karena seringkali hanya dalam bentuk pertemuan sekali atau dengan kesempatan foto bersama.
Prof Imtiyaz menyebut dialog semacam ini dengan sebutan “Goody-Goody Dialogue,” atau dialog yang isinya hanya menceritakan tentang kebaikan dalam agama sendiri dan kebaikan agama orang lain.
Seringkali pula, dialog-dialog ini tidak berlanjut hingga ke masyarakat.
Senada dengan itu, Izak Y. M. Lattu, seorang professor kajian antaragama dan Sosiologi Agama di Departemen Teologi dan Sosiologi Agama, Universitas Kristen Satya Wacana, dalam tulisannya, Beyond Interreligious Dialogue: Oral-Based Interreligious Engagements in Indonesia (2019; 71-78) menuliskan bahwa seringkali dialog-dialog yang dilaksanakan selama ini seringkali tidak memberikan jaminan akan hubungan yang damai antar penganut umat beragama yang berbeda karena dialog-dialog yang diadakan fokus pada kelompok elit, didominasi oleh para pria yang telah berumur, sangat resmi dan juga berbasis teks.
Segala bentuk kritik ini sebenarnya bagian dari harapan agar kegiatan perjumpaan iman bisa lebih menyasar ke arah masyarakat luas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Syamsul-Arif-Galib-Sekprodi-Prodi-Studi-Agama-Agama-UIN-Alauddin-Makassar-6.jpg)