Opini
Tentang Visi Unhas 2026–2030
Di depan saya tergeletak teks pidato pelantikan Rektor Universitas Hasanuddin periode 2026–2030, menemani secangkir americano panas di meja kopi.
Imajinasi tentang Unhas 2026–2030 pada gilirannya adalah imajinasi tentang universitas yang memilih posisi.
Unhas tidak bisa lagi berdiri netral di tengah ketimpangan Timur-Barat, kerusakan lingkungan pesisir, ancaman perubahan iklim, atau masa depan generasi muda yang terancam disrupsi teknologi.
Unhas harus berdiri membawa keberpihakan kepada masyarakat.
Seperti yang dikutip Prof JJ dari Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan, pejuang anti Apartheid, yang pernah menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Unhas tahun 2005, “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.”
Realisasi Mimpi
Pada 2030 nanti, imajinasi ini akan menjadi kenyataan bukan semata karena visi rektor atau kerja keras sivitas akademika.
Ia akan terwujud jika ego sektoral benar-benar diruntuhkan, jika kolaborasi pentahelix, yaitu pemerintah, akademisi, industri, masyarakat, dan media berjalan serentak dalam satu orkestrasi kepemimpinan yang handal.
Dan jika kita semua, termasuk mereka yang berada di luar tembok kampus ikut merawat api imajinasi itu dengan kritis dan penuh tanggung jawab.
Unhas-ku Bersatu, Unhas-ku Kuat sudah bukan lagi sekadar teriakan tagline yang merdu dan melenakan di Baruga AP Pettarani, melainkan panggilan bagi kita semua yang percaya bahwa dari timur Indonesia masih sangat bisa lahir matahari ilmu pengetahuan yang menerangi peradaban, asalkan kita berani berlayar, pantang surut ke pantai, dan selalu siap mengoreksi arah ketika angin berubah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-04-28-Arief-Wicaksono.jpg)