Opini
Mubes dan Ujian Integritas IKA Unhas
Artinya, problem utama bukan pada kekurangan aturan, melainkan pada implementasi dan konsistensi.
Di sisi lain, AD/ART juga menekankan profesionalisme, transparansi, dan akuntabilitas, terutama dalam pengelolaan keuangan dan organisasi.
Di sinilah keseimbangan sekali lagi diuji. Apakah IKA Unhas mampu menjadi “keluarga besar” yang hangat, sekaligus institusi yang modern, terbuka, dan akuntabel?
Salah satu poin paling krusial dalam AD/ART adalah penegasan bahwa kedaulatan tertinggi organisasi berada di forum MUBES.
Ini bukan sekadar norma prosedural, melainkan prinsip demokrasi internal dimana kepemimpinan bukan hak segelintir elite, kebijakan bukan monopoli pengurus dan arah organisasi harus ditentukan secara kolektif.
Pertanyaannya adalah, apakah selama ini MUBES IKA Unhas benar-benar menjadi ruang deliberasi yang hidup? Atau hanya formalitas legitimasi dari proses yang sudah “dikunci” sebelumnya? Jika MUBES kehilangan substansi, maka yang hilang bukan sekadar forum—tetapi legitimasi moral organisasi itu sendiri.
Butuh Implementasi
Secara normatif, AD/ART IKA UNHAS sebenarnya sudah sangat komprehensif: Konstitusi ini memuat pengaturan struktur organisasi berlapis dari pusat hingga daerah, mennetukan mekanisme musyawarah berjenjang, menyebutkan sistem pengawasan melalui Dewan Kehormatan serta adanya opsi demokratis dalam pemilihan (termasuk One Man One Vote/OMOV).
Bahkan, ruang adaptasi terhadap perkembangan zaman sudah diantisipasi, seperti mekanisme musyawarah daring dalam kondisi tertentu.
Artinya, problem utama bukan pada kekurangan aturan, melainkan pada implementasi dan konsistensi.
AD/ART IKA Unhas juga menegaskan bahwa alumni memiliki tanggung jawab sosial untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan berkontribusi pada pembangunan.
Ini menarik, karena menempatkan IKA Unhas bukan hanya sebagai organisasi internal, tetapi juga aktor sosial.
Dalam konteks hari ini—di tengah krisis kepercayaan publik, ketimpangan sosial, dan tantangan pembangunan—peran ini justru semakin relevan.
Pertanyaannya adalah, apakah IKA Unhas sudah tampil sebagai kekuatan sosial yang signifikan, atau masih lebih banyak berkutat pada urusan internal?
MUBES sebagai Titik Balik
MUBES IKA Unhas yang akan datang seharusnya tidak hanya berhenti pada siapa yang terpilih menjadi Ketum PP IKA Unhas saja.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Asri-Tadda-lUWU-RAYA.jpg)