Opini
Otonomi dan Astacita
Lalu datanglah reformasi. Otonomi daerah diperkenalkan sebagai obat mujarab untuk penyakit sentralisasi yang akut.
|
Editor:
Sudirman
dok.tribun
PENULIS OPINI - Foto Mustamin Raga ini dikirim ke Tribun-Timur.com pada Kamis, 16 Oktober 2025, untuk melengkapi naskah opini Tribun Timur yang Mustamin Raga. Pria yang biasa disapa Agra ini alumnus Unhas yang juga Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gowa
Astacita mungkin menawarkan visi besar. Tetapi tanpa ruang bagi daerah untuk berpikir, merancang, dan menentukan arah, visi itu berisiko menjadi monolog panjang dari pusat yang harus didengar, diikuti, dan dilaksanakan tanpa banyak tanya.
Negara yang besar bukanlah negara yang semua keputusannya terpusat. Negara yang besar adalah negara yang percaya pada daerahnya.
Memberi ruang, memberi kepercayaan, dan—yang paling penting—memberi hak untuk berbeda.
Jika tidak, maka otonomi daerah hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah. Disebut sesekali, dikenang sepintas, lalu dilupakan pelan-pelan.
Dan kita, tanpa sadar, kembali ke titik awal—ketika daerah hanya menjadi penonton di rumahnya sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/17102025_Mustamin-Raga.jpg)