Opini
Harla GP Ansor: Satu Komando Menuju Kemaslahatan
Pilihan tanggal 10 Muharram bukanlah kebetulan. Hari Asyura dalam tradisi Islam menyimpan makna perjuangan dan pengorbanan.
Kemampuan untuk menjaga jarak yang proporsional dari kekuasaan sambil tetap berkontribusi pada kebangsaan adalah ujian yang tidak ringan.
Kemandirian gerakan terkait dengan kemampuan Ansor untuk menentukan agenda dan narasinya sendiri.
Di era media sosial, terlalu mudah bagi organisasi untuk terombang-ambing oleh trending topic. Ansor harus bisa memilih isu mana yang layak direspon dan mana yang hanya distraksi.
Koherensi: Antara Kata dan Tindakan
Satu komando tidak hanya soal kepatuhan vertikal, tetapi juga koherensi antara visi, program, dan tindakan.
Dalam konteks ini prinsip “koherensi” ditekankan sebagai instrumen untuk memastikan bahwa tidak ada kesenjangan antara perencanaan dan implementasi .
Ini adalah persoalan serius. Banyak organisasi yang pandai menyusun program kerja di atas kertas, tetapi gagal mengeksekusinya di lapangan.
Koherensi berarti bahwa apa yang direncanakan di tingkat pusat harus selaras dengan apa yang dijalankan di tingkat ranting, dan apa yang diklaim sebagai capaian harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
Di titik ini, GP Ansor memiliki modal berharga: jaringan yang menjangkau hingga level desa. Kehadiran di tingkat akar rumput inilah yang membuat Ansor berbeda dari organisasi kepemudaan yang hanya eksis di kota-kota besar.
Seorang kader ranting di pelosok mungkin tidak fasih berbicara tentang geopolitik global, tetapi ia tahu persis apa yang dibutuhkan tetangganya: keamanan saat perayaan hari besar agama, bantuan saat banjir melanda, atau sekadar kepastian bahwa tidak ada kelompok intoleran yang akan mengganggu ketenteraman kampungnya.
Membaca Ulang Trilogi Ukhuwah
Di balik kalimat “Satu Komando Menuju Kemaslahatan”, terdapat fondasi ideologis yang khas Ansor: trilogi ukhuwah.
Ketua Umum GP ,Addin Jauharuddin, dalam sebuah pertemuan dengan akademisi internasional, menjelaskan bahwa Ansor mengusung ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan) .
Trilogi ini penting untuk dipahami secara utuh. Ukhuwah Islamiyah adalah basis identitas. Ukhuwah wathaniyah adalah medan perjuangan.
Dan ukhuwah basyariyah adalah cakrawala peradaban. Ketiganya tidak boleh dipisahkan. Tanpa ukhuwah Islamiyah, Ansor kehilangan akar teologisnya.
| Mendobrak Sekat Pengawasan: Mengapa Partai Politik Adalah Jantung Pengawasan Partisipatif? |
|
|---|
| Mengeja Ulang Emansipasi |
|
|---|
| Save Our Planet: Ditengah Rapuhnya Gencatan Senjata |
|
|---|
| Kartini Hari Ini: Cahaya yang Diteruskan atau Nilai yang Ditinggalkan? |
|
|---|
| Pembentukan Provinsi Luwu Raya Berdasarkan Kepentingan Strategis Nasional |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-03-27-Rusdianto-Sudirman.jpg)