Opini
Kartini Hari Ini: Cahaya yang Diteruskan atau Nilai yang Ditinggalkan?
Maka ketika kita berbicara tentang Kartini hari ini, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang cermin.
Oleh: Munawir Kamaluddin
Guru Besar Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Perempuan adalah rahasia paling halus yang dititipkan kepada dunia, ia tidak selalu tampak sebagai kekuatan, tetapi darinyalah segala kekuatan bermula.
Dalam diamnya, ia menyusun arah.
Dalam lembutnya, ia meneguhkan makna.
Dan dalam hatinya, ia menyimpan kemungkinan lahirnya peradaban yang bermartabat… atau sebaliknya, keruntuhan yang perlahan namun pasti.
Maka ketika kita berbicara tentang Kartini hari ini, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang cermin.
Yaitu cermin yang memantulkan bukan hanya sejarah, tetapi juga kegelisahan zaman.
Sebab di balik gemerlap modernitas yang menawarkan kebebasan tanpa batas, terselip pertanyaan sunyi yang tak banyak diucapkan, apakah perempuan hari ini benar-benar merdeka atau hanya berpindah dari satu bentuk keterikatan ke bentuk yang lebih halus?
Di ruang-ruang kehidupan yang riuh, perempuan tampak semakin hadir, semakin bersuara, semakin terlihat.
Namun di kedalaman yang tak selalu kasat mata, tidak semua kehadiran itu berakar, tidak semua suara itu bermakna, dan tidak semua kebebasan itu menuntun pada kemuliaan.
Ada yang bersinar, tetapi kehilangan arah.
Ada yang terdengar, tetapi kehilangan makna.
Ada yang bebas, tetapi jauh dari ketenangan.
Di titik itulah Kartini seakan kembali bertanya bukan kepada dunia, tetapi kepada nurani kita, apakah cahaya yang dulu dinyalakan masih kita jaga… atau telah kita tukar dengan kilau yang sesaat?
Kartini tidak pernah memperjuangkan kebebasan yang liar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/munawir-kamaluddin.jpg)