Opini
Harla GP Ansor: Satu Komando Menuju Kemaslahatan
Pilihan tanggal 10 Muharram bukanlah kebetulan. Hari Asyura dalam tradisi Islam menyimpan makna perjuangan dan pengorbanan.
Namun, komando saja tidak cukup. Ia harus diorientasikan pada tujuan yang jelas: kemaslahatan.
Dalam khazanah Islam, maslahah berarti kebaikan umum sesuatu yang membawa manfaat bagi masyarakat luas dan mencegah kemudaratan.
Di tingkat grassroot, kemaslahatan diterjemahkan dalam bentuk rill. Di beberapa daerah kader Ansor mengelola lahan pertanian satu hektar melalui program “Ansor Bertani”.
Di atas lahan itu tumbuh 3.000 tanaman semangka, 1.500 melon, dan beragam komoditas hortikultura lainnya.
Ini adalah langkah konkret menjawab tantangan ekonomi dan memperkuat kemandirian organisasi.
Pertanian mungkin terlihat sepele, tetapi dari situlah kader belajar tentang ketahanan pangan, manajemen, dan kerja kolektif.
Salah satu contohnya di Tangerang Selatan, GP Ansor justru memainkan peran sebagai watchdog kebijakan publik.
Mereka melaporkan dugaan kejanggalan kebijakan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) Aparatur Sipil Negara ke Kejaksaan Negeri.
Sekretaris PC GP Ansor Tangsel, Amizar, menyatakan bahwa langkah itu diambil demi transparansi dan keadilan, karena ditemukan ketimpangan signifikan antara tunjangan pejabat dan pegawai level bawah .
Maslahat, dalam hal ini, berarti membela kepentingan rakyat kecil dan memastikan kekuasaan berjalan di rel yang benar.
Empat Bidang Kemandirian
Untuk mewujudkan kemaslahatan, GP Ansor memerlukan kemandirian. Empat bidang yang harus dimandirikan: finansial, kelembagaan, gerakan, dan kapasitas kader .
Kemandirian finansial menjadi persoalan klasik organisasi kepemudaan. Terlalu banyak organisasi yang kehabisan energi hanya untuk mencari dana operasional.
Badan Usaha Milik Ansor (BUMA) memberi contoh bagaimana organisasi bisa membiayai dirinya sendiri tanpa bergantung pada proyek-proyek pemerintah atau donatur besar.
Kemandirian kelembagaan berarti bahwa struktur organisasi tidak boleh dikendalikan oleh kepentingan di luar Ansor. Ini sensitif, mengingat GP Ansor adalah organisasi yang sering dilirik oleh kekuatan-kekuatan politik.
| Mendobrak Sekat Pengawasan: Mengapa Partai Politik Adalah Jantung Pengawasan Partisipatif? |
|
|---|
| Mengeja Ulang Emansipasi |
|
|---|
| Save Our Planet: Ditengah Rapuhnya Gencatan Senjata |
|
|---|
| Kartini Hari Ini: Cahaya yang Diteruskan atau Nilai yang Ditinggalkan? |
|
|---|
| Pembentukan Provinsi Luwu Raya Berdasarkan Kepentingan Strategis Nasional |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-03-27-Rusdianto-Sudirman.jpg)