Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Mengeja Ulang Emansipasi

Emansipasi, sebuah kata yang dahulu bergetar seperti genderang kebangkitan, kini kerap tersesat dalam lorong-lorong

Editor: Edi Sumardi
Tribun-timur.com/DOK PRIBADI
Pegiat Wacana Humaniora, Ute Nurul Akbar 

Tanpa itu, kita akan terus terjebak dalam ilusi kebebasan. Semakin kita merasa merdeka sebenarnya kita justru tidak merdeka, jika seperti itu kita sesungguhnya sedang mengikuti arus yang tidak kita pahami sepenuhnya.

Membaca Ulang Emansipasi

Atas runut kegelisahan ini, seharusnya sudah saatnya kita meninjau kembali cara kita memaknai emansipasi.

Kita perlu mengembalikannya ke akar: sebagai proses pembebasan yang utuh, yang tidak hanya menyentuh aspek luar, tetapi juga membebaskan pikiran dan nurani.

Emansipasi bukan sekadar hak untuk memilih, tetapi juga kesadaran untuk memahami pilihan tersebut.

Ia bukan hanya tentang kebebasan bertindak, tetapi juga tanggung jawab untuk memaknai tindakan itu.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukanlah “sejauh mana kita tampak bebas,” melainkan “sejauh mana kita benar-benar merdeka.”

Sebab, kebebasan yang sejati tidak pernah bergantung pada pengakuan orang lain. Ia lahir dari dalam, dari kesadaran yang jernih dan keberanian untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Jika tidak, emansipasi akan terus menjadi gema yang hampa—terdengar lantang, tetapi kehilangan ruhnya.

Dan kita, tanpa sadar, akan terus berjalan di dalam penjara yang kita kira sebagai ruang kebebasan. 

Seperti kata Pramoedya "kebebasan yang berlebihan adalah penindasan".(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved