Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Mengeja Ulang Emansipasi

Emansipasi, sebuah kata yang dahulu bergetar seperti genderang kebangkitan, kini kerap tersesat dalam lorong-lorong

Editor: Edi Sumardi
Tribun-timur.com/DOK PRIBADI
Pegiat Wacana Humaniora, Ute Nurul Akbar 

Paradoks dalam Emansipasi

Ironisnya, di tengah gegap gempita kebebasan yang dipertontonkan, kita justru menyaksikan lahirnya bentuk-bentuk penyeragaman baru.

Standar sosial yang dulu ingin diruntuhkan, kini digantikan oleh standar lain yang tak kalah mengekang.

Ada pola-pola tertentu yang dianggap sebagai representasi sah dari emansipasi, dan siapa pun yang berada di luar pola itu berisiko dianggap tertinggal, bahkan terbelakang.

Di sinilah paradoks itu bekerja secara halus: emansipasi yang dimaksudkan untuk membebaskan, justru berubah menjadi mekanisme baru yang mengatur dan membatasi.

Fenomena ini tidak lepas dari kecenderungan masyarakat untuk memaknai kebebasan secara instan.

Dalam logika konsumsi modern, segala sesuatu cenderung disederhanakan agar mudah dipahami dan dipasarkan, termasuk gagasan tentang emansipasi.

Kebebasan direduksi menjadi citra yang bisa diproduksi ulang, direplikasi, dan disebarluaskan tanpa perlu refleksi mendalam.

Akibatnya, kita lebih sibuk meniru bentuk daripada menggali esensi.

Kita mengejar tampilan, tetapi mengabaikan kesadaran.

Kita berenang dalam kolam kolam kebebasan palsu yang sesungguhnya begitu terbatas.

Kita justru memenjarakan diri dalam rasa bebas yang justru tidak membebaskan, kita tenggelam pada kesadaran palsu rasa merdeka yang tidak memerdekakan.

Penjara Baru Bertopeng Emansipasi

Dalam kondisi ini, gaung emansipasi telah berubah menjadi penjara yang justru tidak disadari karena tidak mengekang secara fisik.

Tapi justru menyerang mental dan kesadaran kita.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved