Makkunrai 2026
Perempuan Multiperan di Era Kompleksitas
Dalam kerangka sosial yang masih dipengaruhi budaya patriarki, perempuan sering kali berada dalam posisi paradoksal.
Sebaliknya, perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga kerap dipandang “kurang produktif”, bahkan diremehkan, terlebih jika ia memiliki latar pendidikan tinggi.
Pilihan domestik dianggap sebagai “kemunduran”, bukan sebagai keputusan sadar yang sarat nilai.
Padahal, perspektif ini perlu dikritisi secara mendasar.
Menjadi ibu rumah tangga bukanlah absennya kontribusi, melainkan bentuk kerja sosial yang paling fundamental.
Dalam tradisi pendidikan Islam maupun perspektif pedagogi modern, keluarga adalah madrasah pertama, dan ibu adalah pendidik utama.
Di tangan seorang ibu, nilai-nilai dasar, karakter, dan fondasi intelektual seorang anak mulai dibangun.
Penelitian dalam bidang perkembangan anak oleh UNICEF menegaskan bahwa kualitas pengasuhan pada usia dini sangat menentukan perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak di masa depan.
Dengan demikian, mereduksi peran ibu rumah tangga sebagai “tidak bekerja” adalah bentuk penyempitan makna kerja itu sendiri.
Ia adalah kerja yang tidak selalu terukur secara ekonomi, tetapi memiliki dampak jangka panjang yang signifikan bagi kualitas generasi.
Di sinilah letak bias struktural yang perlu disadari: masyarakat cenderung mengapresiasi kerja yang bernilai pasar, tetapi abai terhadap kerja reproduktif yang menopang keberlanjutan kehidupan sosial.
Namun, penting pula untuk tidak terjebak dalam dikotomi yang kaku antara perempuan karier dan ibu rumah tangga.
Keduanya bukanlah posisi yang harus dipertentangkan, melainkan spektrum pilihan yang sama-sama bermakna.
Problem utamanya bukan pada pilihan perempuan, melainkan pada sistem sosial yang belum sepenuhnya memberi ruang aman, adil, dan suportif bagi setiap pilihan tersebut.
Dalam konteks ini, pendekatan yang lebih adil adalah dengan membangun kesadaran kolektif bahwa tanggung jawab domestik bukan semata domain perempuan, melainkan tanggung jawab bersama dalam keluarga.
Di sisi lain, ruang kerja juga perlu lebih responsif terhadap kebutuhan perempuan, termasuk dalam hal fleksibilitas, perlindungan maternitas, dan kebijakan yang ramah keluarga.
| Kisah Yessy Kusman, Kartini Luwu Nakhoda Kapal Pengangkut Batu Bara Kalimantan - Jawa |
|
|---|
| Mengenal Nanin, Satu-satunya Camat Perempuan di Makassar: Berani Tampil dan Memimpin |
|
|---|
| Fatmawati Rusdi Bawa Harapan Baru bagi Kepemimpinan Perempuan |
|
|---|
| Wagub Sulsel Fatmawati Rusdi: Kita Ingin Perempuan Sulsel Mandiri |
|
|---|
| Bu Titi: Kalau Perempuan Bergerak, Semua Beres! |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/TRIBUN-OPINI-Sudarmin-Tandi-Pora-Mahasiswa-UIN-Palopo.jpg)